Beberapa minggu lalu sebelum bursa transfer ditutup, pemegang saham tertinggi klub Paris Saint Germain (PSG) Nasser Al-Khefilah melakukan negoisasi dengan Real Madrid terkait sang jenderal lapangan Angel Di Maria.
Namun, negosiasi akhirnya batal lantaran Nasser tak menyetujui harga yang diminta Madrid. Menurutnya, harga itu terlalu tinggi.
"Kami telah berbicara dengan pihak Real Madrid terkait Di Maria, tapi dia (Di Maria) sangatlah mahal. Walaupun jika tidak ada aturan yang mengatur harga transfer pemain yakni financial fair play dari UEFA kami tetap saja tak mampu dan mau untuk membelinya," ujar Nasser.
Akhirnya, Real Madrid melepas Di Maria ke Manchester United dengan mahar sebesar 59,7 juta Poundsterling.
Sebelum Nasser berucap begitu, di awal-awal jendela transfer dibuka, raja minyak dari Timur Tengah itu telah merogoh kocek besar demi mendatangkan David Luiz ke PSG. Tak tanggung-tanggung, dia berani membayar 50 juta Poundsterling hanya demi mendapatkan seorang bek.
"Banyak klub yang tertarik dia (David Luiz), pelatih sangat menginginkan dia. Jadi saya datangkan dia," jelasnya.
Bagaimana bisa, seorang pemilik klub berani memboyong seorang bek dengan harga tinggi tapi tak ingin mendatangkan seorang gelandang yang kreatif? Padahal, selisih angkanya tak terlalu jauh.
Bukan hanya David Luiz yang memiliki harga fantastis untuk seorang bek. Rekor pembelian pemain termahal Manchester City musim panas ini adalah seorang bek yakni Eliaquim Mangala. City mendatangkan Mangala ke Etihad Stadium dengan banderol 32 juta Poundsterling.
Tak sampai di situ, Manchester United juga membeli seorang bek yang masih berusia muda dengan harga 30 juta Poundsterling.
Tau mau ketinggalan, Liverpool yang berjuluk The Reds rela mengeluarkan 20 juta Poundsterling untuk mendapatkan jasa pertahanan tim kepada Dejan Lovren. Angka tersebut sama halnya ketika Liverpool membayar jasa striker Fernando Torres tujuh tahun lalu dari Atletico Madrid.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa seorang pembuat, pengatur dan jenderal lapangan yang bisa mengkreasikan gol dan kemenangan bagi tim dihargai lebih murah oleh klub. Dibandingkan seorang bek yang fungsinya hanya mengamankan pertahanan tanpa bisa mengatur ritme pertandingan?
Padahal, satu dekade sebelumnya, sebuah tim membeli jasa bek dengan harga yang jauh lebih murah. Semahal-mahalnya waktu itu, bek hanya dihargai 2 juta Poundsterling.
[why]