Berita

yeriko fernando/net

Politik

FPPK: Putusan MK dan Tindakan Aparat Melukai Masa Depan Demokrasi Kita

JUMAT, 22 AGUSTUS 2014 | 05:50 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Mahkamah Konstitusi (MK) tidak menunjukkan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa martabat demokrasi dan kedaulatan rakyat menjadi hukum tertinggi.

Kedaulatan rakyat yang sarat dengan manipulasi dan intervensi berbagai tendensi kepentingan pragmatis justru menciderai hak dan nurani segenap rakyat Indonesia.

"Mahkamah Konstitusi tidak sanggup menyingkap kebenaran dan keadilan secara kontitusional demi menjaga martabat serta menentukan masa depan demokrasi di Indonesia," kata Ketua Front Pemuda Pejuang Keadilan (FPPK), Yeriko Fernando, menanggapi putusan MK atas sengketa hasil Pilpres, dalam rilisnya.


Pernyataan ini menurut Yeriko adalah kritik terhadap netralitas putusan MK atas gugatan kecurangan Pemilu yang terjadi secara terstruktur, sistematis dan masif oleh pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Padahal, keputusan MK seharusnya menjadi simbol kewibawaan dan masa depan demokrasi ketika para penyelenggara Pemilu tidak lagi dipercaya.

"Keputusan MK dengan berbagai pertimbangan yuridis konstitusional toh masih menimbulkan kontroversi yang menyisahkan pertanyaan besar tentang sejauh mana asas-asas pemilu ditegakan demi menjaga martabat demokrasi Indonesia ke depan," jelas Yeriko.

Yeriko juga menyayangkan tindakan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian yang seharusnya bertugas untuk mengamankan proses persidangan hingga keputusan MK keluar. Aparat malah melakukan tindakan yang mencederai dan melukai massa.

"Kami mengecam keras tindakan aparat kepolisian yang memandang massa sebagai perusuh. Kami menilai bahwa massa yang datang adalah representasi dari hak dan tuntutan rakyat yang menuntut keadilan dan kebenaran hukum," tegasnya.

Ketua Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan DKI Jakarta ini meminta agar oknum kepolisian yang melakukan tindakan represif, bahkan tergolong kriminal hingga mencederai dan melukai massa, harus diproses hukum. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya