Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden telah sampai di akhir proses demokratiknya dengan pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi hari ini. Di sisi lain, peran Kepolisian RI dalam proses pergantian kepemimpinan nasional ini sangat penting dan strategis.
Koordinator Nasional Relawan Gema Nusantara (Gema Nu), Muhammad Adnan, mengatakan, peran Polri sebagai stabilisator keamanan dalam dinamika Pilpres yang sangat keras. Namun yang menjadi persoalan adalah, dengan peran vital dan kekuatan personil yang menjangkau hingga ke desa-desa, membuat kekuatan politik tertentu berusaha untuk menarik Polri. Sayangnya, usaha itu berhasil.
Menurutnya, seperti diterangkan dalam pernyataan pers, indikasi keberhasilan penggalangan Polri masuk dalam kutub politik tertentu ini nyata dan dapat dilihat realitasnya di lapangan. Adnan menyebut beberapa kasus.
Pertama, di Kalimantan Barat, polisi aktif mengarahkan warga di TPS untuk memilih pasangan capres tertentu. Kedua, di Papua, Kepala Kepolisian Resor ikut menekan KPUD untuk mengalihkan perolehan suara. Ketiga, pasangan nomor dua menang mutlak secara merata di seluruh kompleks perumahan Polri.
Keempat, adanya pertemuan diam-diam Komisaris Jenderal Budi Gunawan Cs, yang notabene mantan ajudan Megawati Soekarnoputri ketika menjabat Presiden RI, dengan politisi PDIP, Trimedya Panjaitan, yang diduga berujung bocornya materi debat capres.
Kelima, pernyataan Kapolri Jenderal Sutarman saat pengumuman hasil rekapitulasi suara tingkat nasional bahwa pihak yang kalah harus menerima hasil. Sutarman seperti penegak hukum yang tak mengerti hukum bahwa proses KPU bukanlah final.
Keenam, adanya pertemuan Kapolri bersama Kapolda Metro Jaya dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dua hari setelah pencoblosan Pilpres.
"Kekuatan-kekuatan pro demokrasi tidak bisa lagi hanya diam melihat Jenderal Sutarman membawa Polri masuk dalam permainan politik yang seharusnya haram dilakukan mengingat Polri adalah alat negara yang netral dan tidak berpihak," kata Adnan.
Ia berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, selaku atasan langsung Kapolri, tidak ragu memecat Sutarman yang telah melakukan tindakan insubordinasi atau pemberontakan terhadap perintah atasan.
[ald]