Berita

boni hargens/net

Politik

MENANTI KABINET JOKOWI-JK

"Sekarang Apa Maunya Jokowi dan Boni Hargens?"

JUMAT, 15 AGUSTUS 2014 | 15:51 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Sikap pengamat politik muda, Boni Hargens, yang ikut campur dalam urusan koalisi politik Jokowi-JK dan bahkan menantang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk keluar dari koalisi, mendapat kritikan tajam.

"Jokowi itu tidak punya kekuatan mayoritas, dia tidak kuat sendirian. Dia tergantung partai pendukung makanya bisa menang," kata pakar politik, Arbi Sanit, kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat (15/8).

Beberapa hari lalu, Boni Hargens meminta PKB untuk keluar dari koalisi kalau tidak mau menerima syarat menteri dilarang merangkap jabatan struktural di partai."Kalau PKB tidak mau syarat dari pak Jokowi, ya keluar," tegas Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu.


Menurut Arbi, adalah wajar jika PKB meminta jatah kursi kabinet mengingat PKB-lah satu-satunya partai Islam yang mendukung Jokowi. Selama belum ada sistem presidensial yang murni dan selama berlakunya sistem multi partai bercampur presidensial, maka Jokowi harus memperhatikan pembagian kekuasaan di antara koalisinya.  

"Kalau presidensial murni memang tidak boleh minta-minta. Kalau presidensial murni dia (Jokowi) punya kekuatan mayaritas sesuai sistem. Tapi sekarang dia tidak punya kekuatan sendiri, dia tergantung partai pendukung," terang ilmuwan politik dari Universitas Indonesia itu.

Bagi-bagi kekuasaan di antara partai koalisi membuat presiden seolah tidak bisa mandiri. Namun, itulah konsekuensi dari sistem politik yang berlaku sekarang, yang hasilnya adalah kabinet tidak profesional.

Arbi juga menegaskan bahwa komitmen "koalisi tanpa syarat" yang dibangun Jokowi-JK tidak kuat dijadikan dasar untuk menentukan bentuk kabinet semaunya.

Maka, Jokowi harus jadikan agenda mengubah UU politik menuju presidensial murni itu sebagai prioritas kerja dalam 100 hari pertama.

"Kalau sekarang mau dia paksakan, apa kekuatannya selain partai koalisi? Sekarang apa maunya Jokowi dan Boni Hargens?" sindir Arbi merujuk pada pernyataan Boni Hargens. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya