Berita

tb hasanuddin/net

Politik

TB Hasanuddin: John McCain Temui SBY Bawa Misi Bisnis Senjata?

RABU, 13 AGUSTUS 2014 | 12:16 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Sebetulnya kurang pas jika seorang Presiden Republik Indonesia membahas isu peningkatan alat utama sistem persenjataan atau alutsista negara dengan pejabat sekelas senator Amerika Serikat.

Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Mayjen (Purn) TB Hasanuddin, kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Rabu, 13/8).

Dia mengkritik pertemuan Presiden SBY dengan Senator Amerika Serikat, John McCain, di Istana Negara, kemarin. John Sidney McCain adalah senator berusia 77 tahun yang mewakili negara bagian Arizona.
 

 
Salah satu materi penjelasan SBY kepada McCain adalah tentang upaya pemerintah RI meningkatkan postur dan kemampuan tentara, termasuk penambahan dan modernisasi alat utama sistem persenjataan.

"Saya kira begini, kalau kepala negara secara resmi bicara kepada senator yang mewakili sebuah wilayah tertentu, wilayah di negaranya sana, tentu subjek pembicaraaannya bukan subjek yang sangat strategis dan sensitif," kata TB Hasanuddin.

Menurut dia, seharusnya SBY hanya membahas hal lain yang tidak sensitif seperti alutsista. Malah akan lebih pas jika SBY dan McCain membahas hubungan kedua negara, bukan teknis persenjataan.

"Mungkin lebih pas SBY bicara tentang integrasi Papua yang sering juga dibicarakan para senator di AS dan Inggris. Yang bicara pertahanan itu lebih pas menteri pertahanan atau parlemen dari Komisi Pertahanan," jelasnya.

Karena kejanggalan itu, mantan Sekretaris Militer Presiden itu jadi menduga-duga McCain adalah utusan kelompok atau seseorang yang berpengaruh di AS.

"Dia ajak presiden kita bicara persenjataan dengan misi tertentu. Misalnya dia datang ke sini mungkin ada pesanan titipan, dari misalnya produsen senjata tertentu, bisnis senjata," ujarnya.

Meski ada dugaan begitu, karena pembicaraan SBY dan John McCain itu terjadi di ujung periode jabatan SBY, maka Komisi I tak akan membawa secara khusus isu pertemuan itu harus ke rapat Komisi. Tidak ada urgensi meminta penjelasan presiden.

"Dia (SBY) sebentar lagi finish, jadi mungkin tak perlu dimintai keterangan," tandasnya. [ald]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya