Berita

darmin nasution/net

Hukum

Darmin Nasution Mengklaim Tidak Mengerti Kasus Hadi Purnomo

SENIN, 11 AGUSTUS 2014 | 18:37 WIB | LAPORAN:

Bekas Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution, mengaku tidak tahu soal kasus korupsi yang menjerat Hadi Purnomo. Dia berdalih tak mengerti soal perkara permohonan keberatan pajak yang diajukan Bank Central Asia (BCA).

"Ya saya itu dipanggil untuk jadi saksi, untuk kasus Pak Hadi Purnomo. Tapi kan saya itu jadi Dirjen (Pajak), Pak Hadi Purnomo sudah tidak di situ lagi kan,” kata Darmin usai menjalani pemeriksaan di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (11/8).

Darmin dimintai keterangan sebagai saksi untuk Hadi Purnomo terkait kasus permohonan keberatan pajak yang diajukan BCA. Darmin adalah Dirjen Pajak pada periode 2006-2009, sedangkan Hadi adalah Dirjen Pajak periode 2002-2004.


"Apa yang disebutkan dalam kasus itu juga saya belum ada di Dirjen Pajak. Dan kemudian ada follow up dari Irjen dan sebagainya saya juga tidak tahu," jelasnya.

Karenanya, dia mengaku tak dalam kapasitas memberikan penilaian soal tindakan yang dilakukan Hadi. Apalagi, soal permohonan keberatan pajak yang diajukan BCA. Soal adanya kemungkinan pemerasan dalam kasus tersebut, Darmin juga mengaku tak mengetahuinya.

"Tidak bisa karena itu substansinya terjadi sebelum saya datang di Pajak. Keputusannya kan sudah ada waktu itu," demikian Darmin.

Dalam kasus ini, Hadi Poernomo ditetapkan tersangka terkait kapasitasnya yang pernah menjabat Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak tahun 2002 hingga 2004. Dia ditengarai melakukan penyalahgunaan wewenang dengan memerintahkan Direktur Pajak Penghasilan (PPh) mengubah hasil telaah dan kesimpulan Direktorat PPh terhadap permohonan keberatan wajib pajak yang diajukan BCA. Sejauh ini, KPK menduga, kasus tersebut menimbulkan kerugian negara sebesar Rp375 miliar.

KPK sendiri diketahui terus mendalami kasus dugaan korupsi permohonan keberatan pajak BCA ini. Ketua KPK, Abraham Samad pada Kamis, 24 Juli 2014 lalu menyatakan, KPK salah satunya segera memanggil petinggi BCA untuk diperiksa menyangkut kasus tersebut. Hal itu bagian dari langkah KPK mengintensifkan penyidikan. [ald]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Teddy dan Fadli Zon Saling Bagi Tugas saat Kunjungan PM Modi

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:16

Penegak Hukum Lebih Baik Saling Bongkar Kasus daripada Lindungi Koruptor

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:10

Momen Delegasi RI Ziarah ke Makam Ali Khamenei di Mashhad

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:47

Pesan Prabowo ke Aparat Bukan Teguran Biasa Melainkan Instruksi Moral

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:34

Bahlil Bidik Penambahan Kursi Golkar di 2029

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:16

KPK Hormati Proses Hukum Kasus Febrie Adriansyah

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:10

Konflik Memanas, AS Bombardir Iran Lagi setelah Selat Hormuz Ditutup

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:50

Penanganan Kasus Korupsi Jangan Ganggu Kekompakan Polri-Kejagung

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:33

Kolaborasi UI-Tsinghua Buka Jalan Produksi Vaksin Dengue Buatan Indonesia

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:15

Kasus Febrie Harus Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Bukan Lobi Politik

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:07

Selengkapnya