Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton dikabarkan mengakui bahwa kelompok militan yang tengah bergerilya di wilayah Irak dan Suriah, ISIS merupakan bentukan Amerika Serikat.
Dikutip dari sejumlah media online Indonesia yang merujuk pada harian Mesir, Elmihwar (Rabu, 6/8) disebutkan, pengakuan yang dituliskan dalam buku terbarunya yang berjudul "Hard Choice" itu dijelaskan bahwa ISIS dibentuk untuk memecah belah Timur Tengah.
Hillary menyebut bahwa kelompok militan yang diumumkan pada 5 Juni 2013 itu mulanya akan membentuk negara Islam di wilayah Sinai Mesir. Namun rencana itu terpaksa gagal setelah terjadinya revolusi Mesir tahun itu.
Laporan itu agaknya senada dengan kabar sebelumnya yang dihembuskan oleh mantan kontraktor badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA) Edward Snowden.
Snowden yang tengah menikmati suaka di Rusia itu menyebutkan bahwa ISIS merupakan organisasi bentukan dari kerjasama intelijen tiga negara, yakni Inggris, Amerika Serikat, dan Israel.
Dikutip dari
Republika yang merujuk pada
Global Research (Jumat, 1/8), disebutkan bahwa intelijen tiga negara itu berencana menciptakan sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstrimis di seluruh dunia.
Hal itu merupakan bagian dari strategi yang disebut dengan "sarang lebah". Strategi itu dibuat untuk menempatkan semua ekstrimis dalam satu tempat yang sama dehingga mudah dijadikan target.
Dalam dokumen NSA yang dibocorkannya, Snowden menjelaskan bahwa strategi itu dibuat untuk melindungi kepentingan zionis dengan menciptakan slogan Islam. Bukan hanya itu, ISIS juga dikabarkan dibentuk untuk memperpanjang ketidakstabilan di timur tengah, khususnya di negara-negara Arab.
Dikabarkan pula bahwa pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi pernah menjalani pelatihan militer setahun penuh dari Mossad, Israel dan mendapatkan kursus teologi serta retorika.
Namun mengutip dari kabar yang dilansir
United Press International pada Rabu (7/8), Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut mengeluarkan bantahan soal isu yang berkembang itu
Bantahan yang dikeluarkan di sosial media itu menegaskan bahwa Amerika Serikat menilai ISIS merupakan sebuah organisasi teroris. Dalam pernyataan yang sama ditegaskan juga, kabar bahwa ada peran serta campur tangan Amerika Serikat di balik pembentukan ISIS adalah palsu.
[mel]