Berita

ilustrasi

On The Spot

Tinggal 3 Loket Penukaran Valas Yang Masih Buka

TKI Yang Pulang Lewat Terminal Khusus Merosot
JUMAT, 08 AGUSTUS 2014 | 10:17 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sebuah minibus Damri ukuran sedang berhenti di depan lobby Balai Pelayanan Kepulangan Tenaga Kerja Indonesia (BPKTKI), Selapajang, Kota Tangerang, Rabu sore. Tiga perempuan turun dari kendaraan itu. Mereka membawa tas-tas berukuran besar.

Mereka memanfaatkan troli yang disediakan di depan balai ini untuk menempatkan barang-barang bawaan. Satu per satu perempuan itu masuk ke dalam sambil mendorong troli.

BPKTKI biasa disebut terminal khusus TKI. Lokasinya di Jalan Surya Darma, persis di belakang Bandara Soekarno-Hatta. Dari terminal kedatangan, para TKI diangkut dengan bus ke balai ini. Terminal khusus ini dikelola Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) untuk melayani TKI yang datang dari luar negeri. Mulai dari pengecekan paspor, penukaran mata uang asing atau valuta asing (valas), hingga menyediakan angkutan bagi TKI ke kampung halaman.


Eha, salah satu TKI yang tiba di terminal khusus ini celingukan mengamati sekelilinginya. Di sisi kiri ruang utama yang berbentuk hall berjejer 10 loket money changer. Hanya tiga yang buka. Seorang pria berseragam biru muda dengan emblem BNP2TKI memanggil ketiga TKI perempuan itu untuk ke loket pendataan yang berada tepat di tengah ruangan.

Ada lima loket pendataan yang disediakan. Tetapi, hanya satu yang dibuka. Eha kemudian menjelaskan, dirinya adalah TKI yang baru pulang dari Brunei Darussalam. Petugas loket meminta paspor Eha untuk pendataan. Data-data di dokumen keimigrasian itu di-input ke dalam komputer di hadapannya. “Mau pulang kemana?” tanya petugas loket.

“Ke Serang Pak,” jawab Eha.

Petugas itu tampak heran lantaran di paspor Eha disebutkan berdomisili di Cirebon, Jawa Barat, bukan di Serang, Banten. Dijelaskan pria kurus itu untuk kepulangan dengan travel, harus sesuai dengan alamat paspor atau KTP.

“Silakan lapor ke ruang pelayanan TKI muskilah (bermasalah),” saran pria itu. Eha yang mengaku baru pertama kali menjadi TKI itu menurut.

Di ruangan muskilah, Eha diterima Adi, ketua grup di terminal khusus TKI. Adi menjelaskan, dirinya wajib melakukan pendataan terhadap setiap TKI yang pulang lewat terminal ini dan mengantarkannya sampai depan pintu rumah.

Untuk itu, kata dia, pihaknya perlu mengetahui dengan pasti tujuan kepulangan para TKI. Alamat kepulangan mengaju kepada identitas di KTP maupun paspor yang dibawa TKI.

Meski di paspor Eha berdomisili di Cirebon, dia bersikukuh minta diantarkan ke Serang. Alasannya, keluarganya sudah menunggu di sana.

Sebagai jalan tengahnya, Adi menyodorkan surat pernyataan yang ditandatangi Eha. Mengenggam secarik surat pernyataan, perempuan berjilbab itu menuju ke loket pembelian tiket travel. Tak jauh dari loket pendataan di tengah ruang utama.

Eha memesan tiket kepulangan di loket travel. Dia diminta membayar Rp 300 ribu. Usai membeli tiket, Eha menunggu dipanggil naik ke kendaraan travel yang akan mengantarkannya pulang.

Eha pulang ke Tanah Air setelah dua tahun bekerja di negara tetangga. Ia menuturkan, sebelum pulang rekan-rekannya sesama TKI mewanti-wanti agar dirinya berhati-hati ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta.

Pasalnya, banyak pihak yang berusaha mencari keuntungan dari TKI yang baru pulang dari luar negeri. Mulai dari menawarkan travel tidak resmi hingga penukaran uang yang tidak sesuai dengan kurs saat itu.

“Uang saya nggak tukar di sini (bandara) saya kirim semua lewat bank. Bawa diri saja,” ujar Eha yang nampak memeluk erat tas kecil di tangannya.

Diceritakan, begitu turun dari pesawat dan mengambil tas di Terminal 2, dirinya diarahkan petugas ke sebuah meja pendataan TKI. Di sana, dia ditanya apakah dijemput keluarga di Terminal 2 atau menggunakan jasa travel. Menjawab travel, Eha langsung digiring ke dalam bus menuju terminal khusus TKI.

“Ya semua baik-baik saja. Tidak ada keluar uang. Mungkin benar karena habis ada sidak ke bandara,” kisahnya.

Suasana terminal khusus TKI Selapajang kini sepi. Jumlah TKI yang pulang lewat terminal ini sudah jauh berkurang. Loket-loket pendataan dan tempat pembelian tiket travel, tidak terlihat ada petugasnya. Jika tidak ada TKI yang tiba, mereka asyik mengobrol di tepian. Dari 10 loket penukaran uang (money changer), tinggal tiga yang masih buka.

Adi, ketua grup di terminal khusus TKI menuturkan, kondisi ini sudah berlangsung dua tahun terakhir. Seusai pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 16 Tahun 2012 tentang Tata Cara Kepulangan TKI dari Negara Penempatan secara Mandiri ke Daerah Asal.

Dengan adanya peraturan itu, para TKI dari luar negeri tak lagi wajib ke terminal khusus untuk proses pemulangannya ke daerah asal. “Hanya yang tidak dijemput (keluarga) dan TKI bermasalah yang ada disini,” ujar Adi.

Berdasarkan peraturan itu, kata Adi, para TKI bisa mendarat di bandara di kota terdekat. Yakni Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Batam. Tak lagi berpusat di Jakarta. Di Bandara Soekarno-Hatta, para TKI bisa langsung dijemput pihak keluarga di Terminal 2.

Selama bertugas dua tahun di terminal khusus TKI, Adi mengklaim tidak ada pahlawan devisa yang diperas di tempat ini. “Saya jamin di sini tidak ada calo,” tegas Adi.

Adi berasumsi, calo yang memeras TKI beroperasi di terminal kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta. Sidak yang dilakukan KPK beberapa waktu lalu, kata dia, telah membuktikannya.

“Kalau mau sidak di sini (terminal khusus TKI) silakan. Kami siap,” tandasnya.

Sebelumnya pada 26 Juli 2014 malam, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta.

Sidak dilakukan terkait dugaan pemerasan atau pungutan liar yang dialami para pahlawan devisi saat pulang dari luar negeri.

Sidak dipimpin Ketua KPK Abraham Samad, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Adnan Pandupraja, dan Zulkarnain. Juga melibatkan Badan Reserse Kriminal Polri, Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), PT Angkasa Pura II, dan BNP2TKI.

Sebanyak 18 orang diamankan. Kepala Bareskrim Polri Inspektur Jenderal Suhardi Alius mengatakan, dari belasan yang diamankan, terdapat satu oknum TNI AD dan dua oknum polisi.

“Selebihnya preman dan calo yang selama ini meresahkan dan membuat TKI semakin menderita,” ucap Suhardi.

Bos BNP2TKI Jadi Saksi Pahlawan Devisa Diperas

Adi, ketua grup di terminal khusus TKI Selapajang mengungkapkan, TKI yang lewat pulang sini banyak yang bermasalah. Tak sedikit yang pulang dalam kondisi kere. Tak membawa sepeser uang pun hasil kerja di luar negeri.

“Ada juga yang datang itu, TKI yang tidak digaji, disiksa majikan atau terkena pelecehan seksual,” sebutnya. Lantaran itu, menurut dia, tidak ada uang yang dapat dicalokan di tempat ini.

Adi kemudian menunjukkan data TKI yang pulang lewat terminal khusus. Pada bulan Juli 2014 tercatat 3.371 TKI. Sebanyak 869 di antaranya bermasalah.

Bahkan 30 TKI pulang dalam kondisi sakit. Mereka lalu dirujuk ke rumah sakit. Adi juga menuturkan, pihaknya kerap menangani TKI yang mengalami penipuan, pencurian dan hipnotis saat pulang. Semua uang hasil kerja di negara orang ludes.

“Ada yang nggak punya uang sama sekali. Kita berikan travel gratis plus ongkos,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Adi juga mengungkapkan, terminal khusus ini menjadi tempat penitipan bayi yang dibawa para TKI dari luar negeri. “Dia (TKI) malu pulang bawa bayi, dititip ke kita,” ujarnya.

“Saya juga heran kalau di sini dianggap seolah menjadi sarang calo dan tempat beredar uang yang banyak,” ujar Adi. Ia mempersilakan pihak-pihak berwenang untuk melakukan sidak pelayanan di sini.

Kepala Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Gatot Abdullah Mansyur tak menutupi ada TKI yang mengalami pemerasan ketika pulang dari luar negeri.

Tak lama setelah menggantikan Jumhur Hidayat, Gatot langsung sidak ke Bandara Soekarno-Hatta, tepatnya di terminal umum kedatangan, untuk mengecek kebenaran informasi mengenai pemerasan terhadap TKI yang baru tiba. Dia menyamar sebagai penumpang biasa.

“Mau cek bagaimana pola pemerasan dari mana dan bagaimana. Ternyata memang, tidak salah kalau disebut sistematis,” kata Gatot seperti dikutip situs internet. Berdasarkan hasil sidak yang dilakukan KPK beberapa waktu lalu, disimpulkan bahwa pemerasan terhadap TKI di bandara berlangsung sistematis, masif dan terstruktur.

Gatot menyaksikan sendiri sejumlah TKI yang digiring orang-orang berseragam sejak turun dari pesawat. Dia tak bisa memastikan dari instansi mana pria berseragam tersebut. Yang jelas bukan dari anak buahnya. “Yang pasti punya otoritas masuk ke dalam dan atas izin otoritas penerbangan. Bajunya dari mana saya nggak tahu,” katanya.

Setelah itu, Gatot melihat TKI tersebut melewati berbagai pemeriksaan, dari mulai Imigrasi, Bea cukai, bahkan ada polisi dan anggota TNI. Belum selesai sampai di situ, para TKI juga kemudian “diperas” para porter pembawa barang, hingga di luar bandara dicecar calo-calo taksi gelap. “Banyak sekali orang-orangnya, mungkin ada yang membantu. Tapi salah satu salah duanya pasti meras,” ungkapnya.

Menurut Gatot, temuan ini sudah disampaikan kepada dirut PT Angkasa Pura II. Juga melaporkannya ke Kapolres Bandara. Meski begitu, praktik pemerasan masih terjadi sampai KPK mengamankan belasan pelaku pada sidak yang dilakukan 26 Juli 2014 malam. ***

Populer

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

UPDATE

Wali Kota Agustina Instruksikan Perbaikan Jalan Rusak Akibat Tonase Berlebih

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:08

Dua Pelaku Curanmor Modus Mengaku Paranormal Ditangkap

Kamis, 28 Mei 2026 | 19:39

Daftar Tanggal Merah Juni 2026 Lengkap, Catat Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama

Kamis, 28 Mei 2026 | 19:14

Cek NIK KTP Penerima Bansos PKH BPNT Mei 2026

Kamis, 28 Mei 2026 | 19:14

Anies-Mahfud MD, Pasangan Terbaik Pilpres 2029

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:53

Fenomena Langka Blue Moon Muncul 31 Mei 2026, Catat Jamnya di Indonesia

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:27

MBG Pasti Meroket jika Tanpa Copet

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:25

Warga Kayumanis Bogor Semringah Terima Sapi Bantuan Presiden

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:19

11 Orang Terjaring Operasi Cipkon di Jakpus

Kamis, 28 Mei 2026 | 18:05

5 Cara Menyimpan Daging Kurban di Chiller dan Freezer agar Awet Berbulan-bulan

Kamis, 28 Mei 2026 | 17:47

Selengkapnya