Berita

Politik

SENGKETA PILPRES 2014

Prabowo-Hatta Sertakan Bukti Ketidakwajaran Penambahan Jumlah DPT

RABU, 06 AGUSTUS 2014 | 16:08 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Menurut pendapat dan penilaian pihak Prabowo Subianto-Hatta Rajasa , proses pelaksanaan Pilpres 2014 telah berlangsung dengan tidak jujur dan tidak adil serta penuh dengan praktik kecurangan yang dilakukan oleh KPU (Termohon) sehingga menguntungkan pasangan calon nomor 2 (Jokowi-JK).

Karenanya, Prabowo-Hatta menolak hasilnya dan menyampaikan keberatan kepada KPU dengan mengisi Formulir Keberatan Model DD2-KWK KPU pada saat Pleno tanggal 22 Juli 2014,.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, mengatakan, hasil telaah pihaknya menyatakan Termohon (KPU) sebagai penyelenggara pemilu telah melakukan kecurangan terstruktur, sistematis dan massif dengan cara mengabaikan DP4 (Data Penduduk Pemilih Potensial Pemilu) sebagai sumber penyusunan DPS (Daftar Pemilih Sementara) dan DPT (Daftar Pemilih Tetap), dengan menambahkan jumlah DPT dan memodifikasi daftar pemilih.


Hal itu, katanya, dapat dilihat dari kumpulan data yang dimilikinya bahwa penambahan DPT sejak bulan 15 Februari 2014 sampai 9 Juli 2014 adalah sebesar 6.019.226. Hal tersebut melampaui tingkat pertumbuhan penduduk per tahun yang wajar.

"Adapun pertambahan DPT yang sangat spektakuler terjadi antara tanggal 13 Juni 2014 sampai 9 Juli 2014 yaitu sebesar 3.573.310," tulis Fadli saat merangkum isi permohonan pihaknya ke MK, lewat akun twitter pribadi (Rabu, 6/8).

Hal lain yang perlu mendapat perhatian Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi adalah pertemuan antara Komisioner KPU dengan anggota Timses Pasangan Nomor Urut 2 dan seorang pejabat negara di Restoran Sate Khas Senayan di Jalan HOS Cokroaminoto.

"Kami menduga pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian perencanaan, pelaksanaan, dan tindakan-tindakan KPU untuk melakukan tindakan melawan hukum dalam rangka memenangkan pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden nomor urut 2," tulis Fadli. [ald]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya