Berita

Politik

Pilpres 2014 Paling Parah, Kemana 58 Juta Suara

SENIN, 21 JULI 2014 | 13:34 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kalangan aktivis menilai bahwa Pilpres 2014 merupakan pemilihan umum paling buruk dan paling parah dalam sejarah Indonesia pasca Orde Baru.

Diperkirakan, sekitar 58 juta suara rakyat hilang, dibuang, dirusak dan tidak dihitung.

“Ada apakah gerangan?” tanya mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) Haris Rusly Moti.


KPU telah menetapkan bahwa Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pilpres 2014 adalah sebanyak 190.307.134 pemilih. Angka ini disebutkan bertambah sebanyak 2,4 juta dari jumlah DPT pemilihan anggota lembaga legislatif.

Jaringan media JPNN mengatakan sudah menyelesaikan penghitungan 96,38 persen suara. Sementara KawalPemilu.Org yang konon dikelola mantan juara olimpiade matematika, Ainun Najib, sudah mengolah data dari 461.530 TPS dari total 478.828 TPS yang ada.

Untuk sementara, pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla disebutkan masih unggul. Dari 127.065.051 suara sah, pasangan nomor urut 2 itu mendulang 67.096.440 suara alias 52,80 persen.

Sementara Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa untuk sementara memperoleh 59.968.611 suara sah atau 47,19 persen.

“Tinggal 5 juta suara lagi yang belum masuk. Jika semuanya sah maka total suara sah sebanyak 132 juta lebih. Bila dibandingkan dengan jumlah pemilih versi KPU sebanyak 190.307.134 orang, maka suara rakyat yang hilang sebanyak 58 juta orang lebih,” ujar Haris dalam pesannya.

Itulah sebabnya ia menyebut Pilpres 2014 merupakan pemilihan umum terburuk karena suara rakyat yang hilang, tidak sah, sengaja tidak dihitung, dibuang, dikurangi, mencapai 58 juta, atau 45,6 persen.

Karena sejumlah persoalan inilah, menurut hematnya, pengumuman hasil pemungutan suara patut ditunda sampai KPU menyelesaikan penghitungan dengan sebaik-baiknya.

“Tunda penetapan hasil Pilpres 2014, bongkar dan selidiki lenyapnya suara rakyat yang dirusak, dan dimakan hantu, ujarnya.

“Semoga KPU tidak bertindak sebagai partai pengusung dengan terlibat merusak dan mengubur suara rakyat untuk menggelembungkan suara capres tertentu,” demikian Haris.  [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya