Berita

ilsutrasi

Politik

TRAGEDI 5.800 TPS

Ratna Sarumpaet: Demokrasi Otoriter KPU Lecehkan Suara Rakyat

SENIN, 21 JULI 2014 | 12:23 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menghabiskan puluhan hingga ratusan miliar untuk membuat iklan dengan slogan “Suaramu Menentukan Nasib Bangsa Kedepan”.

Tetapi mengapa rekomendasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta yang meminta pemungutan ulang di 5.800 TPS ditolak KPU.

Mengapa KPU bersikeras akan mengumumkan hasil pemungutan suara tanggal 22 Juli  dan kedua kubu capres diam padahal di 5.800 TPS itu pendukung keduanya terlibat.


Demikian antara lain pertanyaan aktivis HAM Ratna Sarumpaet mengenai keanehan yang mengiringi  proses Pilpres 2014.

“Katakanlah kubu Jokowi diam karena merasa sudah sukses menggiring opini dan merasa menang. Tetapi kenapa kubu Merah Putih ikut diam? Kenapa Merah Putih tidak menolak tegas sikap KPU yang otoriter, toh UU Pemilu mengatur masa penghitungan Suara 30 hari, yakni hingga 8 Agustus 2014,” ujar Ratna Rarumpaet.

Menurut hemat Ratna, seharusnya kedua kubu all out menuntut KPU menunda pengumuman hasil pemungutan suara demi membela hak suara rakyat yang dicurangi.

“Kenapa pula setelah dua bulan lebih rakyat diintimidasi berita-berita manipulatif konflik politik antar kubu capres, kedua kubu dalam dua hari terakhir mendadak kompak menyerukan damai, lupa ada jutaan rakyat dicurangi dan tidak dibela,” sambungnya.

Dengan sikap otoriter KPU nasib bangsa tidak lagi ditentukan suara rakyat seperti bunyi iklan KPU. Tetapi ditentukan kelakuan otoriter KPU.

Untuk itu, seru dia, rakyat Indonesia di kubu mana pun, termasuk yang golput, wajib menolak.

“Pilpres tidak semata persoalan menang kalah capres, tapi persoalan masa depan bangsa dan seluruh rakyat Indonesia. Inti demokrasi dalam pemilu seliberal apa pun  adalah keadilan. Bukan perdamaian yang mengabaikan keadilan,” demikian Ratna. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

AKPI Perkuat Profesionalisme dan Integritas Profesi

Senin, 13 April 2026 | 19:51

KNPI: Pemuda Harus Jadi Penyejuk di Tengah Isu Pemakzulan

Senin, 13 April 2026 | 19:50

14 Kajati Diganti, Termasuk Sumut dan Jatim

Senin, 13 April 2026 | 19:31

Cara Buat SKCK Online lewat SuperApps Presisi Polri, Mudah dan Praktis!

Senin, 13 April 2026 | 19:17

Bersiap Long Weekend, Ini Daftar 10 Tanggal Merah di Bulan Mei 2026

Senin, 13 April 2026 | 19:16

Viral Dokumen Kerja Sama Udara RI-AS, Okta Kumala: Kedaulatan Negara Prioritas

Senin, 13 April 2026 | 19:14

Daftar Hari Libur Nasional Mei 2026, Ada 3 Long Weekend

Senin, 13 April 2026 | 19:07

Ajudan Gubernur Riau Terima Fee Proyek Rp1,4 Miliar

Senin, 13 April 2026 | 19:02

4 Penyakit yang Harus Diwaspadai saaat Musim Pancaroba

Senin, 13 April 2026 | 18:57

Ongen Sentil Pengkritik Prabowo: Jangan Sok Paling ‘98’

Senin, 13 April 2026 | 18:52

Selengkapnya