Berita

ray rangkuti/net

Politik

Proses Demokrasi Indonesia Bisa Tercoreng Bila Ada Pengerahan Massa

SABTU, 19 JULI 2014 | 18:47 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Proses demokrasi di Indonesia selalu menjadi perhatian dunia, lebih-lebih Indonesia adalah negara paling demokratis secara prosedural bersama dengan India. Bukti perhatian dunia juga ditunjukkan oleh Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki Moon, ketika berkomunikasi dengan SBY.

Karena itu, kata Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti, semua pihak harus menjaga proses demokrasi ini berjalan baik. Misalnya dengan menjaga sikap serta tak mengerahkan massa pada 22 Juli saat KPU mengumumkan hasil pilpres.

"Pengerahan massa jelas tidak bagus, termasuk untuk nama baik Indonesia di dunia internasional. Kalau massa dikerahkan kesannya bahwa akan ada ancaman-ancaman dari sana atau sini. Padahal sejauh ini, tak ada indikasi ke arah sana," kata Ray beberapa waktu lalu (Sabtu, 19/7).


Menurutnya, rencana kubu Prabowo yang akan mengerahkan massa pada 22 Juli ke Gedung KPU Jakarta bukanlah langkah yang tepat dan bijak. Lebih-lebih rencana itu dimaksudkan untuk mendatangkan kedamaian dan menjaga KPU dari tekanan.

"Pengumpulan massa di sekitar KPU jelas bukanlah tindakan yang dapat memberi rasa damai, apalagi menghindarkan KPU dari berbagai tekanan. Kata menghindarkan KPU dari tekanan seperti memberi sinyal bahwa akan ada kelompok-kelompok yang akan menekan KPU. Kelompok mana? Menekan apa? Dan untuk apa? Tak jelas juga itu," ucapanya.

Ray menekankan bahwa siapapun tak patut melakukan reaksi atas kesimpulan yang bersifat asumsi. Lebih-lebih sudah banyak kelompok masyarakat yang menyatakan sebaiknya menghindarkan pengumpulan massa di KPU.

"Pengerahan massa karena dasar asumsi kan tidak tepat. Jangankan massa, TNI saja sebaiknya tak perlu dilibatkan di lokasi. Kita sudah biasa melakukan pemilu. Dan selalu ada cara menyelesaikan ketidakpuasan secara beradab. Cara itu sudah dibuat dalam sistem," bebernya.

Dalam konteks itu, lanjut Ray, dirinya menyatakan layak memberi apresiasi terhadap kubu Jokowi-JK yang telah menghimbau agar massa ProJokowi sebaiknya tidak bergerombol ke gedung KPU. Itu artinya, kubu Jokowi tidak akan melakukan intimidasi ke KPU dengan model pengumpulan massa.

"Inilah yang sejatinya harus juga dilakukan oleh kubu Prabowo. Toh sejauh ini, KPU juga terlihat akan bekerja secara independen, transparan, dan partisipatif. Belum ada tanda-tanda bahwa KPU misalnya akan mempersulit atau mengistimewakan capres tertentu," jelas Ray. [ian]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya