Berita

Jusuf Kalla

Wawancara

WAWANCARA

Jusuf Kalla: Di Era Saya Munas Dipercepat 2 Bulan, Kenapa Sekarang Mau Diundur 3 Bulan

JUMAT, 18 JULI 2014 | 09:41 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Saat menjabat Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla tidak pernah meminta kepada Fadel Muhammad agar musyawarah nasional (munas) digelar Januari 2015.

’’Saya tidak pernah ingat bertemu dengan Fadel. Justru di zaman saya mereka mendesak agar munas dipercepat, sehingga pengurus baru menentukan koalisi dengan pemerintahan,’’ kata bekas Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) kepada Rakyat Merdeka, Rabu (16/7).

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Golkat Fadel Muhammad mengatakan, JK saat menjabat Ketua Umum Partai Golkar meminta agar Munas dilakukan Januari 2015. Kemudian diputuskan dalam Munas di Riau pada tahun 2009.


JK selanjutnya mengatakan, semua kader Partai Golkar  harus taat pada AD/ART, termasuk harus menyelenggarakan munas lima tahun sekali.

“Saat saya jadi Ketua Umum Partai Golkar,  para kader mendesak saya agar Munas dipercepat yang seharusnya Desember 2009, tapi dilaksanakan Oktober 2009,’’ papar Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa konsekuensi Munas dipercepat itu?
Pengurus baru  yang menentukan koalisi dengan pemerintahan saat itu. Makanya  mana mungkin saya minta munas itu diundur, termasuk munas yang akan datang. Logikanya dimana? Saya malah setuju munas dipercepat dua bulan.

Saat itu Fadel mengaku bertemu Anda, ini bagaimana?
Fadel waktu itu Ketua DPD Partai Golkar Gorontalo. Saya tidak ingat lagi 5-6 tahun lalu saya panggil dia. Kalau saya panggil, urusannya apa.

Mungkin Fadel dipanggil karena sebagai Ketua Munas?
Tidak lah. Terus terang waktu itu saya di pihak Surya Paloh. Mana bisa saya panggil Fadel karena dia di pihak Aburizal Bakrie. Kemudian saya setuju pengurus baru menentukan hubungannya dengan pemerintahan yang baru. Saya tidak mungkin lagi mengubahnya. Berilah kesempatan pengurus baru untuk bisa menentukan arah kebijakan ke depan. Itu permintaan mereka kepada saya ketika menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Bukankah Anda sebagai penanggung jawab munas ketika itu?

Betul.  Tapi begitu saya buat laporan pertanggungjawaban, saya dan pengurus demisioner.  Saya tidak memiliki kuasa lagi, tidak ikut rapat-rapat lagi, apalagi menentukan hasil munas.

Saya juga tidak menentukan munas berikutnya.

Kalau begitu, Anda tahu dari mana soal penentuan munas berikutnya?
Saya kan tanya Andi Mattalatta dan kawan lainnya, apa  pernah dengar Munas berikutnya 2014 atau 2015. Mereka menyatakan tidak dengar kok.

Tapi yang jelas saya setuju dipercepat, karena di masa kepemimpinan saya juga dipercepat.
 
Menurut Anda,  keputusan Munas atau AD/ART yang lebih diutamakan?
Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (RT) adalah keputusan yang lebih tinggi daripada hasil munas. Dalam AD/ART kan sudah ditetapkan, yakni Munas dilakukan 5 tahun sekali.

Jadi selayaknya apa yang tertuang dalam AD/ART itu dijalankan, yakni 5 tahun sekali. Kalau dipercepat boleh saja asal di tahun yang sama, seperti di era saya munas dipercepat dua bulan. Tapi kenapa sekarang mau diundur tiga bulan.
 
Kalau munas dilaksanakan 2015 berarti melanggar AD/ART dong?
Biar menilai sendiri saja. Dalam AD/ART, munas diselenggarakan lima tahun sekali. Semua kan harus taat AD/ART karena itu keputusan tertinggi.

Tapi  kalau munas diundur, berarti pengurus sekarang ini dua kali memutuskan koalisi. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya