Berita

ilustrasi

Bola Bagus

Berlin Bergelora

200 Ribu Suporter Sumringah
SELASA, 15 JULI 2014 | 09:37 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kegembiraan, tarian dan isak haru membuncah dari Negeri Jerman. Kembang api ditembakkan di seluruh pelosok Berlin begitu para pendukung merayakan kemenangan 1-0 dengan menyesaki jalanan dan menyalakan klakson mobil dengan bendera hitam, merah dan emas berkibar di mana-mana.

Lebih dari 200 ribu pendukung larut dalam kesenangan di jantung kota Berlin dengan menyanyikan “Oh indahnya!” dan meneriakkan “Super Deutschland”.

Seorang pemuda melompat dari bus umum untuk mengekspresikan kegembiraannya. Sedangkan di pusat belanja Chic kurfuerstendamm di bagian barat Berlin, para suporter menyalakan petasan dan mengibarkan bendera Jerman berukuran raksasa.


Ibukota Jerman itu menutup Fan Mile dari lalu lintas kendaraan di belakang benteng Brandenburg yang menjadi simbol persatuan nasional, demi memberi jalan kepada para peraya kemenangan Jerman itu.

“Kemenangan ini sangat penting. Ini pertama bagi saya!” seru Carsten Glaser.

Dia mengatakan Jerman adalah tim, sedangkan Argentina hanya punya Lionel Messi. “Kita akan pesta sepanjang malam,” timpal Bianca Hoffmann yang melakukan perjalanan ke Berlin dari bagian barat North Rhine-Westphalia untuk bergabung dalam pesta Piala Dunia terbesar di negara itu.

Banyak penggemar yang melihat kejayaan itu menciptakan resonansi sejarah lebih dalam, setelah 24 tahun sejak Jerman Barat mengalahkan Argentina pada 1990 atau beberapa bulan sebelum negara itu mengakhiri Perang Dingin.

“Kemenangan ini penting untuk mempersatukan kembali Jerman,” kata Thorsten Kinscher, karyawan berusia 34 tahun yang bekerja pada perusahaan pelayaran. “Itu menunjukkan kami sungguh dalam kebersamaan.”

Para pendukung berjubel melebihi kapasitas maksimum 200.000 orang di Fan Mile beberapa jam sebelum pertandingan.

Jutaan orang berada di depan layar kaca di taman-taman, bar, klub olah raga dan ruang tunggu di seluruh negeri guna menyaksikan pertandingan di stadion legendaris Maracana di Rio de Janeiro itu.

Para peraya kemenangan tua dan muda, laki dan perempuan, mengenakan wig mohawk, telinga kelinci dan topi koboy dengan warna-warna resmi negara, selain buang plastik ala Hawaiian berwarna hitam-merah-emas.

Anett Voelker (42) lama sekali menunggu 24 tahun untuk bisa mengenakan lagi jersey Jerman.

“Ini kejuaraan super yang mempersatukan kembali Jerman, rasa bersatu yang jauh lebih besar,” kata dia.

Pada babak pertama ketika pertandingan seri 0-0, sejumlah penonton mulai kehilangan kesabaran. “Permainan Jerman tidak bagus, Argentina lebih baik,” kata Tom Ulmann (18) yang pipinya digambari bendera Jerman. “Jika terus seperti ini kita akan kalah.”

Jerman memimpin Brasil 5-0 pada babak pertama di semfinal lalu, sebelum mengakhiri dengan 7-1. Namun penantian gol itu akhirnya tiba dari Mario Goetze yang menghidupkan lagi semangat sampai peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan.

“Saya sungguh tak menyangka dan senang,” kata Frank Wegner (45) dari negara bagian Brandenburg.

Brasil Nimbrung Pesta

Publik Brasil memang berharap Jerman mampu menghadang Argentina. Sebab Argentina merupakan musuh abadi Brasil yang diharapkan gagal mengangkat trofi Piala Dunia di tanah Brasil.

Namun ada satu alasan lagi mengapa publik Brasil turut merayakan sukses Jerman. Sebagai negara sepakbola, publik Brasil suka dengan gaya bermain Jerman yang tampil menyerang seperti tradisi Brasil.

“Kami telah melupakan apa yang dilakukan Jerman terhadap timnas kami. Faktanya, kami mengagumi penampilan mereka karena mereka bermain dengan cara Brasil,” kata seorang warga Rio de Janeiro, Bruno Perreira di Maracana dilansir Reuters.

Di Maracana, suporter Argentina pun jadi seperti menghadapi fans Jerman plus pendukung Brasil, baik yang berkostum tim Samba, berbaju “netral”, maupun mengenakan jersey Jerman.

Dilaporkan, dalam stadion Maracana, chant-chant saling ejek antara pendukung Argentina dan Brasil, yang seringnya membawa serta Maradona dan Pele, ikon rivalitas dari kedua negara tersebut, pun amat sering terdengar di sela-sela elu-eluan dari para suporter Jerman sepanjang pertandingan.

Saat jeda turun minum, ketika para penonton banyak yang meninggalkan kursinya untuk rileks sejenak, balas ejekan juga terus dilakukan. Namun, meskipun sudah saling berhadap-hadapan tak ada ketegangan di antara kubu-kubu suporter. Dengan pertandingan terus-terusan berjalan imbang, suasana tak pelak kian bising dengan ingar-bingar dari para suporter semua kubu.

Maka tak ayal ketika Goetze bikin gol, Maracana pun seperti meledak. Suporter Jerman mengangkat tangan kegirangan, para fans Brasil yang di laga itu secara khusus mendukung Jerman pun ikut jejingkrakan.

Herbert, seorang suporter Jerman asal Frankfurt bahkan sampai kewalahan menerima pelukan dan tepukan selamat yang terus berdatangan dari para pendukung Brasil di sekitar kursinya. Lucunya, hal ini malah justru bikin Herbert, yang sedang harap-harap cemas menunggu waktu peluit akhir dibunyikan, jadi tak konsentrasi memantau sisa waktu pertandingan.

Ketika akhirnya peluit akhir dibunyikan Herbert, yang datang ke stadion dengan mengenakan jersey putih Jerman, pun kembali dikerubungi para pendukung Brasil yang mengenakan segala macam identitas itu, ada yang berbalut jersey dan bendera Brasil, ada juga yang memakai jersey klub-klub Brasil. Badannya ditepuk-tepuk sampai wajahnya memerah lalu batuk-batuk. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya