Berita

Aria Bima

Wawancara

WAWANCARA

Aria Bima: Aneh, Stok Sudah Dilepas Ke Pasar Tapi Harga Sembako Masih Tinggi

SENIN, 07 JULI 2014 | 09:14 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah dinilai  tidak bisa mengendalikan kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako).

”Persoalan ini terjadi setiap tahunnya. Tapi pemerintah tidak belajar dari pengalaman sebe­lumnya,” kata Wakil Ketua Ko­misi VI DPR, Aria Bima, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Sebenarnya, lanjut Aria, bukan hal sulit untuk membereskan ke­naikan harga sembako. Asalkan ada niat dari pemerintah untuk menjaga daya beli rakyatnya.


Berikut kutipan selengkapnya;

Apa penyebab kenaikan harga sembako?
Pemerintah membiarkan ko­mo­ditas pasar dikuasai oleh pa­sar. Liberalisasi sektor pangan sudah kebablasan, sehingga pemerintah tidak bisa mengatasai liarnya harga pangan menjelang lebaran.

Kementerian yang ada tidak bisa mengontrol pergerakan harga komoditas.

Bagaimana cara menanggu­langinya?
Tempatkan orang-orang di kementerian yang memang me­ngerti persoalan kedaulatan pangan, sehingga tidak salah dalam merumuskan kebijakan. Pemerintah harus mengede­pankan kepentingan publik di atas segala-galanya. Kebijakan pangan menjadi rencana stra­tegis.

Bagaimana dengan operasi pasar yang dilakukan peme­rintah?
Operasi pasar tidak bisa mem­bawa hasil yang diharapkan oleh masyarakat. Tidak bisa menurun­kan harga di pasaran. Menteri-menterinya sidak ke pasar ketika sudah ada persoalan.

Bukankah ini ulah spekulan yang memainkan harga?
Spekulan menguasai dari pro­duksi dan distribusi. Tapi kebija­kan pemerintah tidak ada yang bisa membuat mereka jera. Ma­ka­nya momentum seperti ini me­rupakan saat tepat bagi spekulan untuk mendapatkan untung se­besar-besarnya.

Mereka sudah menyetok bahan pangan jauh sebelum dimulainya hari raya. Ketika permintaan naik, barang tersebut ditahan. Ma­kanya ada kesan kelangkaan barang yang berakibat naiknya harga. Anehnya, meski stok su­dah dilepas ke pasar, tapi harga sembako masih tinggi.

Apakah kenaikannya sudah wajar?
Kalau cuma Rp 1.000 sampai Rp 2.000, itu hal yang wajar. Tapi ini ke­­­naikannya sampai puluhan ribu. Jelas  tidak wajar. Merugi­kan ma­sya­­­rakat.  Yang diuntung­kan hanya ok­­num-oknum yang mengatur per­mainan harga di pasaran. Petani sa­ja tidak ikut merasakan mahalnya ko­­moditas yang me­reka tanam. ***

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya