Berita

NET

Debat Capres dan Pemilih Cerdas

RABU, 02 JULI 2014 | 10:12 WIB | OLEH: FRITZ E. SIMANDJUNTAK

KITA patut bersyukur hingga serie ke empat debat kandidat, suasana di masyarakat masih aman dan kondusif. Meskipun menjelang berakhirnya masa kampanye, berbagai informasi  lewat media sosial dan ucapan-ucapan kasar dari elit partai terhadap kandidat lain cenderung semakin meningkat.

Selama empat kali debat capres berlangsung, masyarakat lebih menilai kemampuan menyampaikan pendapat dari setiap kandidat dibandingkan visi misi yang disampaikan. Penyebabnya dua hal, pertama waktu yang relatif singkat untuk menyampaikan visi misi yang hanya sekitar 4-6 menit. Bandingkan dengan debat capres di Amerika Serikat di mana setiap kandidat diberikan waktu lebih dari 30 menit.

Kedua, visi misi setiap kandidat sudah disampaikan ke masyarakat melalui beberapa media. Seperti website, media sosial lainnya, iklan di televisi, radio dan media, diskusi off air maupun on air di tv, atau kampanye terbuka yang sudah berlangsung selama empat pekan. Artinya masyarakat sudah sangat paham mengenai visi misi setiap kandidat.  


Ditambah dengan aturan ketat selama debat berlangsung, akhirnya debat capres hanya menjadi panggung infotainment di mana riuhnya suasana lebih dikarenakan teriakan teriakan dan yel-yel masing-masing pendukung. Moderator juga hanya menjadi lalu lintas diskusi, bukan melakukan pendalaman materi sesuai yang diinginkan masyarakat. 

Debat capres diharapkan akan memberikan nilai tambah informasi mengenai kedua pasangan kandidat. Sehingga pemilih benar-benar terbantu untuk menentukan pilihannya. Seluruh aktivitas kampanye dan debat capres pada intinya untuk membantu pemilih menjadi cerdas (smart voters). Bukan pemilih yang transaksional atau pemilih yang secara ideologis ingin menggoyahkan NKRI.

Karena itu masyarakat pemilih yang cerdas bukan saja perlu informasi mengenai visi misi kedua pasangan kandidat. Karena siapapun yang terpilih akan memimpin negara sebesar 250 juta orang?

Seandainya kita analogikan dengan proses rekruitmen di perusahaan. Maka dari data pelamar yang kita lihat tentu saja pengalaman kerja dan pencapaian kerja akan diutamakan. Bisa saja selama proses interview akan ditanya tentang pandangan kandidat akan hal hal yang sifatnya visioner dan pandangannya mengenai arti kehidupan, kondisi negara, prediksi ekonomi dan lain-lian. Namun rekam jejak kandidat akan menjadi kunci utama penentuan calon eksekutif tersebut.

Lalu kenapa debat capres sedikit sekali mengupas secara mendalam tentang pengalaman dan rekam jejak setiap pasangan kandidat? Untuk membantu pemilih yang lebih cerdas, maka sangat diperlukan pada sesi terakhir KPU melakukan pendalaman mengenai rekam jejak kedua pasangan kandidat. Topik rekam jejak tidak perlu menggunakan moderator, melainkan panel yang langsung terdiri dari pimpinan KPU itu sendiri.

Materi pertanyaan tentang rekam jejak bisa diperoleh dari segala informasi yang sudah ada di publik. Dalam hal ini setiap anggota masyarakat juga boleh menyarankan pertanyaan kepada KPU yang kemudian berhak melakukan seleksi dan penetapan atas pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Panel juga bisa menanyakan konsistensi antara visi misi dikaitkan dengan rekam jejak kedua pasangan.  

Dengan demikian debat capres akan benar-benar memberikan nilai tambah yang lebih utuh mengenai potret kedua pasangan kandidat.  Jalannya debat capres terakhir juga akan lebih menarik untuk ditonton melalui layar kaca.

David Axelrod, penasehat politik Presiden Obama, menyatakan bahwa ada kesamaan antara masa kampanye dan saat menjabat sebagai Presiden.  Kedua proses sangat menegangkan, memerlukan stamina yang kuat karena kurang istirahat,  komunikasi yang efektif, membangun tim yang dapat dipercaya dan akan bekerja sejalan dengan persepsi yang dibangun  (positioning) kandidat. Karena tidak ada lagi yang harus disembunyikan selama masa kampanyr termasuk data-data pribadi dan rekam jejak calon Presiden."It's an MRI for the soul", ujar David.

Semoga KPU bisa melakukan langkah cerdas untuk membuat pemilih di Indonesia yang cerdas dengan membahas secara terbuka tentang rekam jejak kedua pasangan kandidat.  Saya yakin kedua pasangan kandidat juga akan siap menjadikan pemilih lebih cerdas. Semoga !!!!


*Penulis adalah sosiolog dan tinggal di Jakarta.



Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

PUI: Pernyataan Kapolri Bukan Ancaman Demokrasi

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:52

BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA Sesuai UUD 1945

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:34

HMI Sumut Desak Petugas Selidiki Aktivitas Gudang Gas Oplosan

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:26

Presiden Prabowo Diminta Bereskan Dalang IHSG Anjlok

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:16

Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Praka Hamid Korban Longsor Cisarua

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:54

PLN Perkuat Pengamanan Jaringan Transmisi Bireuen-Takengon

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:53

TSC Kopassus Cup 2026 Mengasah Skill dan Mental Petembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:23

RUU Paket Politik Menguap karena Himpitan Kepentingan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:45

Kuba Tuding AS Lakukan Pemerasan Global Demi Cekik Pasokan Minyak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:44

Unjuk Ketangkasan Menembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:20

Selengkapnya