Berita

Politik

Jokowi Salah, Tidak Ada Krisis Saat Indosat Dijual

JUMAT, 27 JUNI 2014 | 02:47 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Argumen Joko Widodo alias Jokowi bahwa ekonomi Indonesia sedang krisis saat PT Indosat dijual ke Temasek hanya mengada-ada. Pada saat BUMN telekomunikasi itu dijual oleh Pemerintahan Megawati Soekarnoputri pada 2002 perekonomian kita justru menunjukkan kondisi sebaliknya.

"Untuk ukuran saat itu perekonomi kita sangat baik. Pertumbuhan ekonomi sudah 4 persen, inflasi stabil 9,5 persen, dan produksi minyak 1,2 juta barel per hari beda dengan sekarang hanya 800 ribu barel per hari. Artinya saat itu ekonomi mulai tumbuh. Jadi kalau dikatakan krisis, itu gambaran tidak benar," kata pakar ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Fadhil Hasan saat diskusi "Mengungkap Sejarah Sisi Gelap Penjualan Indosat" di Jakarta (Kamis, 26/6).

Menurut dia pada masa pemerintahan BJ Habibie terjadi stabilisasi ekonomi Indonesia. Inflasi terkendali bahkan nilai tukar rupiah mampu ditekan dan stabil di Rp 7000 per dolar AS.


"Pada zaman Gus Dur pertumbuhan ekonomi mulai positif. Sehingga saat Megawati presiden pertumbuhan ekonomi mengalami akselerasi," imbuh dia.

Lebih lanjut dikatakan Fadli argumen Jokowi bahwa krisis ekonomi saat penjualan Indosat ditunjukkan dengan adanya defisit APBN sebagai logika ekonomi yang salah.

"APBN 2002 defisit Rp 24 triliun lalu ditutup oleh pinjaman luar negeri Rp 18 triliun sisanya hasil privatisasi Indosat Rp 5,7 triliun. Tapi apakah defisit menunjukkan krisis. Saat ini APBN kita juga defisit. Kalau itu logikanya bukankah sekarang harusnya aset yang strategis juga dijual, tapi kan tidak. Defisit tidak mencerminkan krisisi ekonomi," pungkasnya.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya