RMOL. Para penjudi dan pihak kepoÂlisian di Tanah Air harap wasÂpaÂda. Karena, dampak buruk PiaÂla Dunia 2014 yang penuh keÂjuÂtan ini kian memakan korÂban. DiÂlaporkan, seorang mahaÂsisÂwa di Tiongkok melompat hingÂga teÂwas setelah kalah lebih dari 3 riÂbu dolar AS dalam seÂbuah laga PiaÂla Dunia Brasil 2014.
Mahasiswa tahun kedua yang hanya diidentifikasi dengan naÂma depan Lin itu melompat dari lantai tujuh kampusnya.
“Saya mendengar dia mengaÂtaÂkan ‘jangan paksa saya’ dan ‘beÂri saya waktu dua hari lagi dan saya akan kembalikan uangÂmu’,†ungkap saksi mata.
“Ia berbicara melalui telepon selama lebih dari 10 menit. Saya melihatnya menutup telepon dan berdiri dan kemudian tiba-tiba dia menghilang,†imbuhnya.
Lin dibawa ke rumah sakit di Panyu di selatan provinsi GuangÂdong, tetapi dokter tidak mampu menyelamatkannya.
Mahasiswa lain yang disebut sebagai rekan sekelas Lin meÂngaÂtakan bahwa penjudi itu suÂdah kehilangan hampir 20.000 yuan (3.200 dolar AS) dalam taÂruhan pada sejumlah pertandiÂngÂan Piala Dunia.
“Kami dengar ia meminjam uang cukup banyak dan tingkat bunganya agak tinggi,†kata maÂhasiswa tersebut. Tidak disebutÂkan secara spesifik tim mana yang didukung Lin.
Mirip-mirip Indonesia, TiongÂkok mempunyai ribuan pengÂgeÂmar sepak bola, sebagian di anÂtaÂranya adalah penonton setia seÂkaligus penjudi.
Penjualan lotre terkait Piala DuÂnia yang dilaksanakan pemeÂrintah hingga akhir pekan lalu mencapai empat miliar yuan, nyaÂris dua kali lipat dari 2,3 miÂliar yuan yang dijual pada Piala Dunia 2010.
Miras & Kekerasan MeningkatSelain judi, Brasil 2014 juga memunculkan fenomena orang-orang mabuk berkeliaran di jaÂlan, seiring kemenangan maupun kekalahan tim nasional negaraÂnya. Di dunia, gejala ini disebut “penyakit†yang muncul empat tahun sekali.
Misalnya Wali Kota Bogota, Kolombia, yang telah memerinÂtahÂkan larangan penjualan miÂnuman beralkohol selama Piala Dunia. Larangan ini dikeluarkan menyusul perkelahian dan keceÂlaÂkaan mobil yang menewaskan 9 orang setelah tim nasional KoÂlombia menang 3-0 atas Yunani, Sabtu (14/6).
“Kami ingin perayaan damai. Kita harus menolak kekerasan,†kata Wali Kota Bogota Gustavo Petro. Setelah kemenangan atas YuÂnani tersebut, kepolisian BoÂgota mencatat setidaknya terjadi 3 ribu kasus perkelahian di jalan kota berpenduduk delapan juta orang itu.
Di Prancis, para migran yang menjadi fans tim nasional AljaÂzair memenuhi jalanan kota Paris dan kota-kota besar lainnya di PranÂcis, setelah Aljazair melibas KoÂrea Selatan dengan skor 4-2, Minggu lalu.
Setidaknya 28 orang ditangÂkap polisi dalam kejadian ini. PemÂbubaran kerumunan di jalaÂnan kota-kota di Prancis itu pun sampai menggunakan tembakan flare bahkan lemparan batu. PuÂluÂhan mobil terbakar dalam seleÂbrasi ini.
Alkohol adalah pemicu tragedi lain dalam Piala Dunia 2014. SeÂorang fan Meksiko yang mabuk melompat dari dek kapal pesiarÂnya dan tewas, setelah tim nasioÂnal Meksiko ditahan imbang BraÂsil, Selasa (17/6). Kapal peÂsiar itu mengangkut 3.500 orang MeksiÂko yang tinggal di kota-kota di Brasil antara Fortaleza dan Recife.
Di Nepal, polisi menangkap ratusan fans sepak bola yang maÂbuk dan mengemudi setelah beÂgadang semalaman menonton laÂga Piala Dunia. Polisi di ibu kota negara di lereng Himalaya, KathÂÂmandu, itu telah mencabut lebih dari 400 SIM fans sepak boÂla seÂtempat, dalam sepekan. “Itu dua kali rata-rata angka mingÂguan,†kata Basanta Pant, juru bicara diÂvisi lalu lintas kepolisian.
Polisi Nepal juga menambah 100 personel tambahan untuk berÂjaga-jaga di setiap persimpaÂngan utama Kathmandu, setiap menjelang pukul 04.00 dini hari. Penjagaan tambahan ini untuk mengantisipasi para penonton pertandingan Piala Dunia yang sudah kebanyakan menenggak minuman beralkohol terlibat perÂkelahian.
Dari Tiongkok, 5.200 kasus peÂngemudi mabuk dilaporkan hanya dalam tiga hari pertama Piala Dunia 2014 berlangsung. Angka ini meningkat 52 persen diÂbandingkan kasus serupa daÂlam rentang waktu yang sama pada Piala Dunia 2010. “Polisi lalu lintas akan melakukan tes acak pada siang hari untuk menÂcegah pengemudi mabuk di jaÂlaÂnan,†demikian laporan
China Daily.Perbedaan waktu antara Brasil dan Tiongkok yang mencapai 12 jam juga memunculkan peluang bagi para penyedia surat keteÂrangÂan sakit palsu untuk menyeÂdiakan surat itu bagi para pengÂgemar Piala Dunia yang “tepar†karena begadang semalaman.
Pencarian melalui mesin penÂcari Baidu di Tiongkok mendaÂpatÂkan ribuan hasil vendor yang menawarkan jasa penyediaan surat keterangan sakit dari rumah sakit dengan stempel resmi dan tanda tangan dokter. Direktur EkÂsekutif Federasi Pekerja MaÂlaysia Shamsuddin Baradan meÂngatakan, ada kekhawatiran dari para pengusaha dan pemilik peÂrusahaan tentang penurunan proÂduktivitas selama Piala Dunia 2014 berlangsung. Federasi ini meÂwadahi pengusaha dengan seÂkitar sepertiga total tenaga kerja di Malaysia.
“Pekan pertama mungkin AnÂda tak merasakan apa-apa, tapi pada pekan kedua, ketiga, dan keempat. Kami perkirakan akan ada dampak negatif cukup tingÂgi,†kata Shamsuddin.
Shamsuddin pun menyerukan para pekerja untuk selektif meÂnonton pertandingan Piala DuÂnia, untuk meminimalkan damÂpak buruk terhadap produktivitas itu. Survei dari federasi ini menÂdapatkan 56 persen anggotanya mengalami penurunan produktiÂvitas dan mengalami kerugian kaÂrenanya selama penyelenggaÂraan Piala Dunia 2006 di Jerman.
Di Inggris, spesialis hukum ketenagakerjaan ELAS mengaÂtaÂkan, “demam†Piala Dunia suÂdah menjadi penyakit misterius yang menyerang setiap empat tahun sekali. “Demam†ini meÂnuÂrut lembaga tersebut berpoÂtenÂsi membebani perekonomian neÂgaranya hingga 4 miliar poundÂsterling, setara lebih dari Rp 80 triliun.
Di Paris, pemilik sebuah restoÂran kecil mengatakan, lima dari sembilan pegawainya gagal daÂtang bekerja setelah Prancis meÂnaklukkan Swiss dengan skor 5-2. “Sebagai fans saya senang meÂreka (tim nasional Perancis) meÂnang. Sebagai pengusaha, saya khawatir,†kata Arnaud MonthÂlery, pemilik restoran itu.
Di Australia, sebagian besar pertandingan Piala Dunia 2014 tayang pada tengah malam. SiÂtuasi yang terjadi karena jadwal siar itu terwakili oleh “cuitan†saÂlah satu fans di sana. ***