Berita

ilustrasi, judi bola

Bola Bagus

Kalah Judi, Mahasiswa Mati Bunuh Diri

Hasil Piala Dunia Susah Diprediksi
RABU, 25 JUNI 2014 | 08:18 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

RMOL. Para penjudi dan pihak kepo­lisian di Tanah Air harap was­pa­da. Karena, dampak buruk Pia­la Dunia 2014 yang penuh ke­ju­tan ini kian memakan kor­ban. Di­laporkan, seorang maha­sis­wa di Tiongkok melompat hing­ga te­was setelah kalah lebih dari 3 ri­bu dolar AS dalam se­buah laga Pia­la Dunia Brasil 2014.

Mahasiswa tahun kedua yang hanya diidentifikasi dengan na­ma depan Lin itu melompat dari lantai tujuh kampusnya.

“Saya mendengar dia menga­ta­kan ‘jangan paksa saya’ dan ‘be­ri saya waktu dua hari lagi dan saya akan kembalikan uang­mu’,” ungkap saksi mata.


“Ia berbicara melalui telepon selama lebih dari 10 menit. Saya melihatnya menutup telepon dan berdiri dan kemudian tiba-tiba dia menghilang,” imbuhnya.

Lin dibawa ke rumah sakit di Panyu di selatan provinsi Guang­dong, tetapi dokter tidak mampu menyelamatkannya.

Mahasiswa lain yang disebut sebagai rekan sekelas Lin me­nga­takan bahwa penjudi itu su­dah kehilangan hampir 20.000 yuan (3.200 dolar AS) dalam ta­ruhan pada sejumlah pertandi­ng­an Piala Dunia.

“Kami dengar ia meminjam uang cukup banyak dan tingkat bunganya agak tinggi,” kata ma­hasiswa tersebut. Tidak disebut­kan secara spesifik tim mana yang didukung Lin.
Mirip-mirip Indonesia, Tiong­kok mempunyai ribuan peng­ge­mar sepak bola, sebagian di an­ta­ranya adalah penonton setia se­kaligus penjudi.

Penjualan lotre terkait Piala Du­nia yang dilaksanakan peme­rintah hingga akhir pekan lalu mencapai empat miliar yuan, nya­ris dua kali lipat dari 2,3 mi­liar yuan yang dijual pada Piala Dunia 2010.

Miras & Kekerasan Meningkat

Selain judi, Brasil 2014 juga memunculkan fenomena orang-orang mabuk berkeliaran di ja­lan, seiring kemenangan maupun kekalahan tim nasional negara­nya. Di dunia, gejala ini disebut “penyakit” yang muncul empat tahun sekali.

Misalnya Wali Kota Bogota, Kolombia, yang telah memerin­tah­kan larangan penjualan mi­numan beralkohol selama Piala Dunia. Larangan ini dikeluarkan menyusul perkelahian dan kece­la­kaan mobil yang menewaskan 9 orang setelah tim nasional Ko­lombia menang 3-0 atas Yunani, Sabtu (14/6).

“Kami ingin perayaan damai. Kita harus menolak kekerasan,” kata Wali Kota Bogota Gustavo Petro. Setelah kemenangan atas Yu­nani tersebut, kepolisian Bo­gota mencatat setidaknya terjadi 3 ribu kasus perkelahian di jalan kota berpenduduk delapan juta orang itu.

Di Prancis, para migran yang menjadi fans tim nasional Alja­zair memenuhi jalanan kota Paris dan kota-kota besar lainnya di Pran­cis, setelah Aljazair melibas Ko­rea Selatan dengan skor 4-2, Minggu lalu.

Setidaknya 28 orang ditang­kap polisi dalam kejadian ini. Pem­bubaran kerumunan di jala­nan kota-kota di Prancis itu pun sampai menggunakan tembakan flare bahkan lemparan batu. Pu­lu­han mobil terbakar dalam sele­brasi ini.

Alkohol adalah pemicu tragedi lain dalam Piala Dunia 2014. Se­orang fan Meksiko yang mabuk melompat dari dek kapal pesiar­nya dan tewas, setelah tim nasio­nal Meksiko ditahan imbang Bra­sil, Selasa (17/6). Kapal pe­siar itu mengangkut 3.500 orang Meksi­ko yang tinggal di kota-kota di Brasil antara Fortaleza dan Recife.

Di Nepal, polisi menangkap ratusan fans sepak bola yang ma­buk dan mengemudi setelah be­gadang semalaman menonton la­ga Piala Dunia. Polisi di ibu kota negara di lereng Himalaya, Kath­­mandu, itu telah mencabut lebih dari 400 SIM fans sepak bo­la se­tempat, dalam sepekan. “Itu dua kali rata-rata angka ming­guan,” kata Basanta Pant, juru bicara di­visi lalu lintas kepolisian.

Polisi Nepal juga menambah 100 personel tambahan untuk ber­jaga-jaga di setiap persimpa­ngan utama Kathmandu, setiap menjelang pukul 04.00 dini hari. Penjagaan tambahan ini untuk mengantisipasi para penonton pertandingan Piala Dunia yang sudah kebanyakan menenggak minuman beralkohol terlibat per­kelahian.

Dari Tiongkok, 5.200 kasus pe­ngemudi mabuk dilaporkan hanya dalam tiga hari pertama Piala Dunia 2014 berlangsung. Angka ini meningkat 52 persen di­bandingkan kasus serupa da­lam rentang waktu yang sama pada Piala Dunia 2010. “Polisi lalu lintas akan melakukan tes acak pada siang hari untuk men­cegah pengemudi mabuk di ja­la­nan,” demikian laporan China Daily.

Perbedaan waktu antara Brasil dan Tiongkok yang mencapai 12 jam juga memunculkan peluang bagi para penyedia surat kete­rang­an sakit palsu untuk menye­diakan surat itu bagi para peng­gemar Piala Dunia yang “tepar” karena begadang semalaman.

Pencarian melalui mesin pen­cari Baidu di Tiongkok menda­pat­kan ribuan hasil vendor yang menawarkan jasa penyediaan surat keterangan sakit dari rumah sakit dengan stempel resmi dan tanda tangan dokter. Direktur Ek­sekutif Federasi Pekerja Ma­laysia Shamsuddin Baradan me­ngatakan, ada kekhawatiran dari para pengusaha dan pemilik pe­rusahaan tentang penurunan pro­duktivitas selama Piala Dunia 2014 berlangsung. Federasi ini me­wadahi pengusaha dengan se­kitar sepertiga total tenaga kerja di Malaysia.

“Pekan pertama mungkin An­da tak merasakan apa-apa, tapi pada pekan kedua, ketiga, dan keempat. Kami perkirakan akan ada dampak negatif cukup ting­gi,” kata Shamsuddin.

Shamsuddin pun menyerukan para pekerja untuk selektif me­nonton pertandingan Piala Du­nia, untuk meminimalkan dam­pak buruk terhadap produktivitas itu. Survei dari federasi ini men­dapatkan 56 persen anggotanya mengalami penurunan produkti­vitas dan mengalami kerugian ka­renanya selama penyelengga­raan Piala Dunia 2006 di Jerman.

Di Inggris, spesialis hukum ketenagakerjaan ELAS menga­ta­kan, “demam” Piala Dunia su­dah menjadi penyakit misterius yang menyerang setiap empat tahun sekali. “Demam” ini me­nu­rut lembaga tersebut berpo­ten­si membebani perekonomian ne­garanya hingga 4 miliar pound­sterling, setara lebih dari Rp 80 triliun.

Di Paris, pemilik sebuah resto­ran kecil mengatakan, lima dari sembilan pegawainya gagal da­tang bekerja setelah Prancis me­naklukkan Swiss dengan skor 5-2. “Sebagai fans saya senang me­reka (tim nasional Perancis) me­nang. Sebagai pengusaha, saya khawatir,” kata Arnaud Month­lery, pemilik restoran itu.

Di Australia, sebagian besar pertandingan Piala Dunia 2014 tayang pada tengah malam. Si­tuasi yang terjadi karena jadwal siar itu terwakili oleh “cuitan” sa­lah satu fans di sana. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya