Berita

Pengusiran Paksa Petani di Karawang Mengulang Pembelaan Pemerintah terhadap Korporasi

SELASA, 24 JUNI 2014 | 20:21 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Pengusiran paksa petani di Karawang oleh aparat Brimob dari Mabes Polri dan Polda Jawa Barat dikecam banyak pihak.

Pengusiran terjadi siang tadi. Sekitar 1.200 petani di tiga desa di Kecamatan Telukjambe Barat Karawang, yakni Desa Margamulya, Wanasari, dan Wanakerta diusir paksa dari tanah yang selama ini menjadi tempat bertahan hidup mereka oleh 7 ribu aparat Brimob dari Mabes Polri dan Polda Jawa Barat.

"Pengusiran ini menunjukkan terjadinya kembali praktik kekerasan kekuasaan negara terhadap rakyat," Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasinal Indonesia (GMNI), Twedy Noviady Ginting, dalam keterangannya kepada redaksi sesaat tadi (Selasa, 23/6).


Menurut dia, apa yang dialami petani di Karawang ini memperpanjang catatan kasus konflik agraria yang terjadi di Indonesia.

"Peristiwa ini kembali menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap korporasi, yakni PT. Sumber Air Mas Pratama. Rakyat kembali dikalahkan oleh kekuatan modal. Suatu kondisi ironis di sebuah negara yang berdasar pada Pancasila," katanya.

Selain mengecam tindakan pengusiran secara paksa oleh aparat, Presidium GMNI juga mendesak pemerintah untuk memberi jaminan lahan kepada 1200 petani di tiga desa tersebut. Hal ini penting agar mereka mampu melanjutkan hidup secara baik di negerinya sendiri.

"Kami juga mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan kasus-kasus konflik agraria di tanah air. Sehingga petani dan buruh tani mendapat jaminan kepastian hidup di Indonesia," demikian Tweddy.

Dari informasi yang dihimpun redaksi, pengusiran paksa oleh aparat kepolisian ini menimbulkan korban luka dari pihak petani yang dibantu bertahan oleh mahasiswa dan buruh tani. Selain itu, ada beberapa petani yang ditangkap, yakni Uki, Martha, dan Hasyim.

Sementara dari kalangan buruh dan mahasiswa yang mengalami luka dan ditangkap kepolisian diantara Gilang, Anas, Irwan, Deni, Maulana, RudiPanda, Odin Liana, Marsono, Egi, NB Taryana. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya