Berita

Pemerintah Ogah-ogahan Ancaman Keterpurukan Rupiah Berlanjut

MINGGU, 22 JUNI 2014 | 08:13 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dalam bulan ini. Rupiah sempat menyentuh level Rp 12 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Bagi ekonom senior DR. Rizal Ramli, situasi ini tidak mengagetkan lantaran sudah mengingatkanya jauh-jauh hari.

"Gejala melemahnya rupiah sudah terjadi satu tahun terakhir. Terjadi empat defisit sekaligus. Quarto dificits ini menciptakan instabilitas dan tekanan terhadap rupiah," kata ekonom senior DR. Rizal Ramli kepada wartawan di Jakarta baru-baru ini.

Quatro deficits yang dimaksud Rizal Ramli yaitu defisit Neraca Perdagangan sebesar minus 6 miliar dolar AS, defisit Neraca Pembayaran sebesar minus 9,8 miliar dolar AS, defisit Balance of Payments sebesar minus 6,6 miliar dolar AS pada Q1-2013, dan defisit APBN plus utang lebih dari Rp 2.100 triliun. Menurut Rizal Ramli, quarto deficit ini tidak terjadi dalam semalam. Tanda-tandanya sudah tampak sejak dua tahun silam.


"Quarto deficits timbul karena pemerintah over konfidence. Ekonomi makro bagus, semua surplus tetapi lupa, semua surplus ini karena faktor internasional. Karena harga komoditi naik terus, dan banyak capital inflow yang masuk ke Indonesia," katanya.

"Begitu ada koreksi harga komoditi, misalnya harga batu bara, harga energi turun 30 persen , kita kelabakan. Demikian juga dengan berkurangnya aliran modal ke negara berkembang termasuk Indonesia," sambung Menteri Perekonomian era Pemerintahan Gus Dur ini.

Penyebab lain jatuhnya nilai tukar rupiah lantaran adanya ketidakpastian mengenai arah pembangunan ekonomi pemerintahan hasil Pilpres 2014. Terlepas dari itu, kata Rizal Ramli, sebenarnya keterpurukan rupiah sudah bisa dianalisa jauh-jauh hari dan bisa diambil langkah-langkah untuk mencegahnya.

"Tapi pemerintah "ketiduran". Ada kelemahan dalam antispasi, apalagi semua menteri ekonomi sibuk berpolitik. Kan tidak mungkin harga komoditi terus menerus naik selama 10 tahun. Pemerintah harusnya mempersiapkan diri ketika harga komoditi bagus, melakukan transformsi struktural, ada sumber-sumber ekspor dan sumber-sumber pendapatan yang lain. Ini keenakan karena harga komoditi naik terus begitu ada koreksi harga komoditi kita gagap," paparnya.

Pemerintah dan BI harus mengambil langkah untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Jika tidak dilakukan maka keterpurukan rupiah akan terus berlanjut. BI perlu melakukan intervensi, sementara Pemerintah perlu segera melakukan langkah-langkah strategis terkait kebijakan pemerintah di dalam industri, mengurangi impor, melakukan diversifikasi ekspor dan lain-lainnya.

"Tapi sayangnya saya lihat pemerintah sudah ogah-ogahan. Jelang akhir jabatan mereka tidak fokus, kebanyakan ngalor ngidul. Ini bsa membuka instabilitas baru. Suasana ini bisa berbahaya dan akhirnya memicu melemahnya rupiah lebih lanjut," demikian Rizal Ramli.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya