“It’s Always Himâ€. Judul ini pantas untuk mengoreksi sebagian media dan haters yang berbulan-bulan rajin mengkritik Mario Balotelli. Bahkan saking tak kuat menahan pedasnya kritikan, “Super Mario†sampai mengangkat kaus bertuliskan “Why Always Me?†di 2011.
Ya, pembenci Balo harap malu. Bomber didikan Internazionale Milan ini menjadi penentu kemenangan Italia atas Inggris di Arena Amazonia, kemarin pagi. Gol lewat sundulan itu sekaligus meredam desakan dirinya agar diganti dengan Ciro Immobile.
Namun usai laga, Balo ogah mengomentari para haters. Pemain yang mendadak kalem di bawah asuhan Cesare Prandelli ini lebih memilih untuk bersuka cita.
“Aku sangat gembira, itu benar-benar sebuah emosi yang unik. Itu merupakan Piala Dunia pertamaku dan juga menjadi sebuah sensasi menyenangkan untuk dialami,†kata Balo.
“Aku sangat gembira, itu benar-benar sebuah emosi yang unik. Itu merupakan Piala Dunia pertamaku dan juga menjadi sebuah sensasi menyenangkan untuk dialami,†kata Balo.
“Aku mendedikasikan gol ku kepada calon istriku dan keluargaku,†lanjut pacar Fanny Neguesha ini.
Layaknya seorang kapten, Balo berusaha meredam euforia kemenangan dan mengingatkan perjalanan ke tangga juara masih jauh. “Kami mesti tetap menjejak bumi, karena jika tidak kami takkan bisa berjalan maju,†tegasnya.
Meski begitu, Balo memberi sinyal peringatan agar calon rival berikutnya tidak meremehkan Gli Azzuri.
“(Mulai saat ini) semua tim di Piala Dunia harus takut pada kami.†Menang 2-1 atas Inggris mengakhiri dahaga kemenangan Italia dalam laga internasional.
Terakhir kali Italia menang sebelum ini adalah ketika menghadapi Republik Ceko di kualifikasi Piala Dunia 2014 zona UEFA. Pada laga yang berlangsung di Turin, 10 September 2013, tersebut, Italia menang 2-1. Setelahnya, Italia melewati tujuh laga internasional, termasuk laga pemanasan sebelum Piala Dunia tanpa pernah menang.
“Tim kami menderita, tapi kami mampu mempertahankan supremasi di lapangan tengah. Kami bekerja keras dalam latihan dan terbukti di lapangan. Pertengahan babak kedua, para pemain Inggris pun mulai kram. Itu artinya kerja keras kami terbayar,†tutur Cesare Prandelli.
Di tengah intesitas permainan yang menurun, eks pelatih Fiorentina ini merasa beruntung memiliki Balotelli yang tetap oke meski kerap dihujani kritik.
“Balotelli memberikan segala hal sebisanya. Semua pemain kami pun memberikan yang terbaik,†tukas Prandelli.
Sang allenatore pun berbagi strategi dan penentuan komposisi pemain untuk meredam The Three Lions yang bermain agresif.
“Kami pikir akan bermain dengan Daniele De Rossi, Marco Verratti dan Andrea Pirlo di lini tengah untuk mencoba keunggulan. Kami butuh peningkatan dalam bermain vertikal, karenanya kami juga menurunkan Antonio Candreva dan Claudio Marchisio yang selalu dalam posisi yang tepat,†ungkap Prandelli.
“Kami menyeimbangkan permainan kami karena Inggris adalah tim yang sangat kuat, empat atau lima pemain memiliki kemampuan luar biasa untuk berlari.
Dalam 90 menit Anda tidak bisa terus bermain sempurna dan ada beberapa saat kami dalam keadaan terperangkap,†sambungnya.
Lain Balotelli, lain Wayne Rooney. Performa Rooney kembali menuai kritikan. Meski di laga ini ia menyumbang assist buat Daniel Sturridge yang tinggal mencocor bola ke gawang Salvatore Sirigu.
Toh begitu, pelatih Inggris Roy Hodgson kembali membela Rooney. Bintang Manchester United itu diturunkan di sisi kiri lapangan pada babak pertama dan dinilai tampil jauh dari level terbaiknya.
Di babak kedua Rooney bergeser ke posisi kanan lapangan sampai pertandingan berakhir. Selama 90 menit Rooney total melepaskan tiga tembakan dan satu assist dengan 88 persen operan jitu.
“Menurut saya terlalu kasar untuk menyebut bahwa ia tidak nyaman di sisi kiri. Saya pikir ia tampil cukup bagus dan ia sudah membuat assist untuk gol kami,†kata Hodgson.
“Menyebutnya bermain tak bagus di posisi itu tidak lah berdasar karena saya pikir ia melakukannya dengan baik,†lanjutnya.
Meski akhirnya kalah, Hodgson tetap optimis anak asuhnya akan lolos ke babak 16 besar.
“Kami berharap awal yang sempurna, tapi sayang kami tidak mewujudkan hal itu. Saya rasa kami bermain baik di babak kedua. Saya kira kami dapat kembali menekan karena babak kedua kami tampil lebih dominan,†ujar Hodgson.
“Hal positifnya kami bermain bersama tim terhebat yang pernah saya lihat dan saya senang bisa melihat pemain yang mampu membawa kami lebih baik ke depannya.â€
Lebih lanjut, Hodgson juga belajar dari kekalahan Uruguay atas Kosta Rika dengan skor telak 1-3. Hal ini membuktikan bahwa dalam Piala Dunia segala hal masih sangat mungkin terjadi.
“Berat rasanya menerima kekalahan ini, tapi penampilan ini membangkitkan rasa percaya diri kami. Kami mampu bermain baik kontra Uruguay dan Kosta Rika. Saya sangat yakin kami akan pasti lolos ke babak kualifikasi,†tandasnya.
Suarez MenangisKejutan memang terjadi saat Uruguay ditumbangkan tim semenjana, Kosta Rika. Sempat unggul lewat gol penalti Edinson Cavani, Uruguay malah keteteran membendung tekanan Kosta Rika dan akhirnya kalah 1-3. Kekalahan diperparah dengan bek Maxi Pereira yang menjadi pemain pertama yang mendapat kartu merah pada Piala Dunia 2014.
Bukan hanya para suporter dan pemain starter, Luis Suarez juga tak mampu menahan kesedihan. Dalam pertandingan tersebut, Suarez memang hanya bisa menyaksikan rekan-rekannya dari pinggir lapangan. Meski masuk daftar cadangan, pelatih Oscar Tabarez memilih tak memainkannya.
Tabarez memang mengakui bahwa dirinya enggan berjudi dengan memainkan striker Liverpool tersebut. Pasalnya, kondisi Suarez masih belum fit benar usai menjalani operasi pada 22 Mei lalu.
Sebagaimana yang dilaporkan 101greatgoals, Suarez benar-benar terpukul dengan kekalahan itu hingga menangis. Di bangku cadangan, pemain berusia 27 tahun tersebut terlihat terus menutup wajahnya.
Ini bukan pertama kalinya, Suarez menangis dalam sebuah pertandingan. Sebelumnya, Suarez tak bisa berhenti menangis di lapangan usai Liverpool ditahan imbang 3-3 oleh Crystal Palace pada musim 2013-2014, sebab hasil itu menutup kans The Reds untuk keluar sebagai juara Premier League.
Bagi pelatih Kosta Rika, Jorge Luis Pinto kemenangan atas Uruguay adalah sejarah baru untuk sepakbola di negaranya.
“Kami kalah di babak pertama, sesuatu yang tidak mungkin untuk membalikkan keadaan di babak kedua dan kami menanganinya dengan baik,†katanya.
Joel Campbell, bintang yang mencetak 1 gol dan 1 assist menolak jika timnya disebut membalikkan prediksi setelah menjungkalkan tim peraih dua gelar juara dunia. Kini dia bertekad mengulangi performa brilian menghadapi Inggris dan Italia.
“Itu bukan lah sebuah kejutan bagi kami. Kami ke sini untuk menang. Kami menginginkan tiga poin dan kami berusaha untuk itu,†kata Campbell. ***