Berita

Zainal Arifin Mochtar

Wawancara

WAWANCARA

Zainal Arifin Mochtar: Bukan Grogi, Tapi Kondisi Di Debat- Sangat Ricuh Ada Sikap Saling Cela

JUMAT, 13 JUNI 2014 | 07:51 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Moderator debat perdana capres- cawapres, Zainal Arifin Mochtar mengaku, sudah memaafkan orang-orang yang mencelanya.

“Saya sudah maafkan semuanya. Saya bisa memaklumi mereka,’’ kata Zainal Arifin Mochtar kepada Rakyat Merdeka di Jakarta.

“Saya juga sudah bilang kepada mereka bahwa tidak perlu minta maaf kepada saya. Karena mereka tidak tahu apa yang saya alami malam itu. Ketidaktahuan  bukanlah sebuah kesalahan,’’ tambah Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada itu.


Berikut kutipan selengkapnya:

Apa kendala Anda saat menjadi moderator debat capres-cawapres, Senin lalu?
Debat itu sarat dengan peraturan yang sangat ketat. Peraturan itu menjadi kendala bagi saya dalam memandu jalannya perdebatan.

Apa saja peraturan itu?
Saya tidak boleh menyebut angka 1 atau 2. Karena itu dianggap sebuah kampanye. Saya juga diwajibkan untuk mengontrol audience yang ada di ruangan itu.  Siapapun moderatornya, pasti  sangat kesulitan menghadapi situasi seperti itu.

Bagaimana ceritanya Anda terpilih menjadi moderator?
Waktu itu KPU melakukan seleksi untuk menjadi moderator. Ada lima orang.

Mereka adalah Siti Zuhro, Saldi Isra, Topo Santoso, Imam B Prasojo, termasuk saya.  Setelah melalui serangkaian proses. Dua tim pemenangan pasangan capres-cawapres akhirnya sepakat memilih saya sebagai moderator.

Apa yang membuat Anda terpilih?
Saya juga tidak tahu. Ada yang bilang karena saya orang yang paling independen. Saya dinilai sebagai penggiat anti korupsi. Ada keterkaitan dengan tema masalah kepastian hukum yang diangkat dalam debat tersebut.  Maka kedua timses sepakat memilih saya. Saya terima tugas  menjadi moderator.

Setelah dipilih, apa ada timses mendatangi Anda?
Tidak ada. Saya diberitahu masuk nominasi pada hari Selasa. Rabunya sudah ada hasil dan saya yang terpilih. Hari Kamis saya bertemu KPU di Jakarta.  Jumat dan Sabtu saya briefing dengan pihak stasiun televisi.  Lalu  Senin pukul 14.30 saya baru latihan dan mencoba panggung. Semuanya kepepet dengan waktu persiapan yang sangat singkat. 

Apa penilaian Anda terhadap  debat perdana capres-cawapres itu?
Konsepnya terlalu kaku, suasananya dalam debat tak cair. Ada beberapa poin yang menyulitkan saya sebagai moderator. Peraturannya sangat ketat. Misalnya, ada dua pasang calon, penyelenggara tidak memperbolehkan saya untuk menyebut nomor 1 ataupun 2. Saya diharuskan bilang masing-masing pasangan.

Seharusnya moderator diberikan waktu untuk mengajar dan klarifikasi, agar substansinya lebih terjaga. Saya sebagai pemandu jalannya debat merasa kurang maksimal.

Kenapa Anda terlihat grogi?
Bukan grogi. Orang-orang di luar sana tidak merasakan situasi yang ada di dalam ruangan debat. Kondisinya sangat ricuh dan sulit untuk dikontrol. Bahasa tubuh dari penonton ada yang berdiri sambil nunjuk-nunjuk, teriak-teriak, saling cela satu sama lain. Semuanya itu tidak terlihat di televisi. Kalian tidak merasakan hal itu.
 
Kenapa melarang tepuk tangan sebelum Anda suruh?
Perlu diketahui, sebelum acara dimulai ada kesepakatan. Jangan tepuk tangan sebelum kedua pasangan selesai menjawab pertanyaan. Audience boleh tepuk tangan setelah diizinkan moderator. Ada juga rundown yang dikasih ke saya, untuk mengingatkan ke publik supaya tenang. Saya juga menggunakan earpiece dan selalu komunikasi dengan pimpinan di atas. Karena riuh, saya diingatkan terus. Yang nonton televisi tidak tahu kalau saya menghadapi situasi seperti itu.

Siapa yang membuat pertanyaan?
Pertanyaan dihimpun dari berbagai sumber, ada puluhan masukan dari kementerian, lembaga negara, LSM dan indivudu yang memberi masukan ke KPU. Kemudian KPU mengundang berbagai tokoh untuk membicarakan formulasi pertanyaan. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

UPDATE

KSP Kawal Pembangunan MRT Jakarta sebagai Proyek Strategis Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24

BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:19

Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

PPKGBK Memverifikasi Penghuni Hotel Sultan Usai Eksekusi Pengosongan

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

Pemerintah Harus Benahi Kebijakan Domestik agar Investor Tak Kabur

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10

PKB Usul Ambang Batas Parlemen 5 Sampai 7 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:01

Disinggung Aliran Duit ke Gus Yaqut, Fuad Hasan: Bahaya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:57

UMKM Binaan Pertamina Gelar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55

Rapimnas II di Banten, KAMMI Teguhkan Arah Gerakan Kebangsaan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51

Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Formula Pasar

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:48

Selengkapnya