Berita

Politik

ISU HAM

Mega: Ada Orang Lain di Balik Peristiwa 1998

Mega: Prabowo Adalah Korban
RABU, 11 JUNI 2014 | 13:41 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Pertanyaan dari kubu Joko Widodo-Jusuf Kalla seputar isu hak asasi manusia kepada Prabowo Subianto dalam program debat dua malam lalu, ditanggapi beragam. Ada yang menyebut itu wajar, tetapi ada juga yang menilainya tidak pantas ditanyakan lagi.

Karena, sebagai cawapres yang diusung oleh PDI Perjuangan, seharusnya Jusuf Kalla alias JK seharusnya paham apa yang dikatakan oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, saat berpasangan dengan Prabowo di Pilpres 2009.

Calon Presiden (saat itu) Megawati Soekarnoputri menjawab pertanyaan dari seorang penanya dalam forum silaturahim dan makan bersama dengan para rektor, pengusaha, guru, dan tokoh masyarakat di The View Kota Bandung, Sabtu malam 20 Juni 2009.


Penanya bertanya kepada Mega soal sikap diam Prabowo yang tidak pernah menjelaskan secara gamblang seputar tragedi Mei 1998.

Pertama-tama menjawab itu, Mega mengingatkan bahwa sesungguhnya dirinya pun adalah korban pelanggaran HAM oleh rezim Orde Baru, termasuk kasus 27 Juli. Dikutip dari beberapa pemberitaan, salah satunya di Kompas.Com, kala itu Mega mengajak segenap bangsa untuk menghilangkan rasa benci dan dendam dalam menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu.

Mega pun menjelaskan, jika hukum harus ditegakkan maka bisa jadi tidak akan ada pihak yang puas. Namun kalau Prabowo terus dicecar, menurut Mega, Prabowo pun punya hak membela diri karena mantan Danjen Kopassus itu hanya "korban" seperti dirinya.

"Saya tahu di balik itu ada diri orang lain. Sama seperti saya. Saya victim, korban. Kalau saya bilang, berapa orang saya buka untuk bisa balas dendam. Jadi diam sajalah. Kita kembalikan saja kepada Yang Di Atas," ujar Megawati.

Lalu, mengapa jawaban dari Mega itu seolah belum memuaskan dahaga JK yang notabene diusung PDI Perjuangan dan kawan-kawan?

Bagaimanapun, peluru sudah dikeluarkan. Sebagian kalangan menilai pertanyaan dari JK itu akan menjadi bumerang. Pengamat politik Yunarto Wijaya, yang menanggapi debat itu lewat twitternya, meyakini, kalau cecaran kepada Prabowo diteruskan maka Prabowo lah yang akan menunggak keuntungan berupa simpati dari publik.

Mari kita serahkan kepada rakyat untuk menilai. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya