Berita

Bola Bagus

Ketidakadilan di Balik Ajang Piala Dunia Brasil

MINGGU, 08 JUNI 2014 | 05:33 WIB | LAPORAN:

. Keindahan dari Permainan sepakbola yang ditunjukkan para pemainnya itu tak lepas dari kualitas bola yang dimainkan. Pemain akan lebih mudah menunjukkan kemampuan alias skillnya di lapangan hijau apabila bola yang ia mainkan  memiliki standar kualitas yang tinggi. Maka dari itu, dalam pertandingan Internasional sekelas World Cup, bola yang dipakai haruslah dibuat dengan mutu yang tinggi sehingga memudahkan para pemainnya mengolah si kulit bundar.

Untuk event Piala Dunia, selama bertahun-tahun FIFA mempercayakan kualitas bola pada Adidas. Setiap empat tahunnya, merek produk olahraga dari Jerman itu biasanya melimpahkan proyek pembuatan bola kepada negara-negara yang dipercayanya. Indonesia cukup beruntung, pada Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang, negara kita dipercaya Adidas untuk membuat bola dengan nama Fevernova yang akan digunakan pada laga Piala Dunia waktu itu.

Pada Piala Dunia kali ini di Brasil, Adidas mempercayakan Pakistan sebagi tempat pembuatan bolanya. Bola yang diberi nama Brazuca itu dikerjakan oleh hampir seluruhnya pekerja wanita.


Tapi, yang memicu protes publik sepak bola dunia adalah, harga bola yang sangat mahal tak sebanding dengan upah pekerja bola tersebut. Jelas, bola yang dihargai sekitar Rp1,6 juta per-buah itu sangat jomplang dengan upah para pekerja yang diberi gaji hanya Rp1 juta saja per-bulan. Padahal, tangan-tangan perempuan itu menjahit sekitar sepuluh bola untuk satu orang per-harinya.

Kecaman terhadap ketidak adilan tersebut mulai ramai di twitter. Twit dari akun @FIFAWorldCupTM berbunyi, “sangatlah menjijikan dan tak manusiawi, Bola dengan harga 160$, namun upah pekerjanya hanya 100$ per-bulan.” Sontak twit yang diposting pada hari Jum’at (6/6) tersebut, langsung direspon 12ribu publik sepak bola, yang hampir semuanya turut mengecam fakta tersebut. Twit tersebut difavoritkan sebanyak 2825 orang, dan di retwetkan sebanyak 3128 pengguna twitter. [sam]

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya