Berita

ilustrasi/net

Politik

PDIP, "Janda SBY" Bukan Lagi Selera Rakyat!

JUMAT, 11 APRIL 2014 | 18:35 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

PDI Perjuangan diingatkan untuk cermat dalam menentukan calon wakil presiden pendamping Jokowi. Kalau salah memilih, bisa-bisa kemenangan Banteng Moncong Putih di Pileg kemarin hanya berusia seumur jagung.

Siapa cawapres yang tepat mendampingi Jokowi? Kalangan pengamat menyebut bukan Jusuf Kalla alias JK seperti disodorkan Partai Nesdem ke PDIP. Pemilih akan memilih pasangan capres lain apabila PDIP menduetkan Jokowi dengan JK, sebab JK saat ini bukanlah sosok yang sesuai dengan selera rakyat.

"JK di mata pemilih sudah termasuk sosok yang tidak lagi menjadi selera rakyat. Atau dengan kata lain, JK bukanlah sosok yang didambakan apalagi diunggulkan oleh rakyat guna mengatasi persoalan bangsa dan negara yang sudah sangat rumit, saat ini dan masa mendatang," kata pengamat politik Abdul Muis Syam, Jumat (11/4).


Selain bukan lagi menjadi selera rakyat, menurut dia, ada banyak analisa dan logika sebagai pertimbangan lain mengapa PDIP tidak pantas menduetkan Jokowi dengan JK. Pada Pilpres 2009, Partai Demokrat saja sudah "tak sudi" memakai kembali JK sebagai pasangan pada periode kedua SBY. Masa iya sekarang PDIP mau "mempersunting" JK sebagai cawapresnya Jokowi.

Beberapa sumber mengungkapkan, salah satu alasan SBY sampai harus "menceraikan" JK karena saat menjabat Wapres dengan tugas utama mengurus ekonomi, ketika itu terjadi penguasaan ekonomi untuk kepentingan perusahaan bisnis JK secara gila-gilaan, atara lain pembangunan airport Ujungpadang, airport Medan dan dua airport di Kalimantan. Selain itu, JK juga berhasil membersihkan utang-utangnya di Mandiri dan di BNI, saham kosong di Semen Gresik, proyek-proyek listrik, dan tabung gas, serta lain sebagainya.

Logika kedua, kata Abdul Muis seperti ditulisnya dalam artikel di blog Kompasiana, JK tidak lebih hebat dibanding Megawati dalam urusan kontestasi Pilpres. Perolehan suara pasangan Megawati-Prabowo pada Pilpres 2009 sebesar 26,79%, jauh lebih tinggi dibanding pasangan JK-Win yang hanya mengantongi suara 12,41%.

Menurut dia, ada banyak "perawan" yang bisa diusung PDIP sebagai pendamping Jokowi bukan seperti JK "si janda SBY".  Perawan yang dimaksud Abdul Muis adalah sosok yang belum pernah maju bertarung dalam pilpres, namun dianggap lebih layak dijadikan cawapres karena memang dinilai memiliki kemampuan dalam mengatasi persoalan bangsa dan negara ke depan.

Jika memang PDIP serius ingin salah satunya menegakkan dan menjalankan kembali ajaran Trisakti, maka sebaiknya PDIP mematok syarat bagi parpol yang ingin berkoalisi. PDIP harus bisa memunculkan pertimbangan utama, misalnya tentang resiko-resiko yang kemungkinan besar akan terjadi ketika menjalankan roda pemerintahan nantinya.

"Keseleo sedikit bisa fatal jadinya. Pemilih kita saat ini sebetulnya tak hanya sudah jenuh dengan kelakuan buruk dari banyak parpol, tetapi juga sudah sangat gerah dengan tokoh 4L: Lu..Lagi, Lu..Lagi," demikian Abdul Muis yang pernah lama menekuni dunia jurnalistik.[dem]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

UPDATE

KSP Kawal Pembangunan MRT Jakarta sebagai Proyek Strategis Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24

BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:19

Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

PPKGBK Memverifikasi Penghuni Hotel Sultan Usai Eksekusi Pengosongan

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

Pemerintah Harus Benahi Kebijakan Domestik agar Investor Tak Kabur

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10

PKB Usul Ambang Batas Parlemen 5 Sampai 7 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:01

Disinggung Aliran Duit ke Gus Yaqut, Fuad Hasan: Bahaya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:57

UMKM Binaan Pertamina Gelar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55

Rapimnas II di Banten, KAMMI Teguhkan Arah Gerakan Kebangsaan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51

Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Formula Pasar

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:48

Selengkapnya