Pembangunan stasiun bawah tanah proyek mass rapid transit (MRT) kembali dilanjutkan. Penggalian yang ditargetkan mulai 4 April hingga 19 Juli ini pun menimbulkan kemacetan lalu lintas di kawasan Bundaran HI (Hotel Indonesia) hingga Sarinah.
Kemacetan tersebut terjadi akibat adanya bottle neck atau penyempitan jalan di ruas jalan sepanjang Bundaran HI hingga Sarinah. Kemacetan di kawasan yang setiap harinya padat ini pun bertambah, apalagi ditambah pengerjaan proyek tersebut.
Untuk mengurangi dampak kemacetan lalu lintas, PT MRT Jakarta berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta dan Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya untuk melakukan rekayasa lalu lintas.
Wakil Kepala Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Sambodo Purnomo menjelaskan, untuk mengatasi kemacetan parah, pihaknya terus mengupayakan agar dampak pengerjaan MRT bisa diminimalisasi seoptimal mungkin.
“Dalam proses penggalian stasiun bawah tanah, selama pengerjaannya, jalur bus TransJakarta dari Bundaran HI ke Sarinah akan dijadikan
mix lane (lalu lintas campuran) dengan kendaraan umum. Artinya jalur busway juga bisa dilalui kendaraan, begitu pun sebaliknya,†terang Sambodo.
Selain itu, lanjutnya, catatan lain dalam pengerjaan penggalian ini akan menimbulkan
bottle neck, yaitu lima jalur menjadi tiga jalur. Ini akan menjadi titik utama masalah dalam rekayasa lalu lintas.
Pihaknya juga sudah menyiapkan tim urai macet yang akan berpatroli di jalan-jalan alternatif untuk mengetahui titik-titik kemacetan.“Kami juga akan mengimbau PT TransJakarta dapat menambah armada bus TransJakarta khusus di Koridor I (Blok M-Kota) dan menggratiskan tiket masuk bus Transjakarta atau memberikan diskon yang menarik, agar pengguna kendaraan pribadi mau beralih menggunakan jalur busway selama pekerjaan berlangsung,†cetus Sambodo.
Tidak hanya itu, jumlah personelnya juga ditambah sebanyak 30 orang untuk mendukung sekitar 70 orang personel Ditlantas yang bertugas sehari-hari di Kawasan Sudirman-Thamrin. “Selama penggalian, total jumlah keseluruhan personel ada sekitar 100 orang, berjaga mulai pukul 06.00 pagi hingga 22.00 tiap harinya,†bebernya.
Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami menambahkan, selama masa konstruksi skala besar di titik Bundaran HI, perubahan lajur akan cukup sering terjadi. Termasuk pemindahan lajur busway dari sisi Timur ke sisi Barat atau pun sebaliknya.
Dalam rekayasa lalu lintas, pihaknya, sambung Dono, juga telah menyiapkan rambu-rambu lalu lintas yang akan dipasang di lokasi saat pekerjaan berlangsung, Ditlantas Polda Metro Jaya akan menyediakan petugas pengalih lalu lintas selama proses pekerjaan berlangsung untuk memandu pengguna jalan.
“Kami mengimbau agar pengguna jalan senantiasa berhati-hati dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas, serta arahan petugas lapangan,†imbaunya.
Dono meyakinkan, pihaknya akan berusaha sebaik mungkin agar tahapan konstruksi skala besar ini tidak terlalu berdampak pada lalu lintas jalan dan kenyaman pengguna jalan. “Kami akan berusaha memastikan agar hak pengguna jalan selalu diperhatikan. Terutama terkait kenyamanan dan keamanan berkendara,†ungkapnya.
Seperti diketahui, kemacetan sebagai dampak penggalian stasiun bawah tanah MRT ini kini sudah dirasakan. Ini misalnya terlihat di Kawasan depan Plaza Indonesia, kantor Kedutaan Besar Jepang dan Plaza EX, dimana para pekerja sudah melakukan penggalian. Di sekitar kawasan tersebut juga nampak para petugas tengah mengatur lalu lintas. Meski begitu, kepadatan serta kemacetan di kawasan tersebut memang tidak bisa dihindari.
Edwin, salah satu pengendara mobil yang kerap melintas di Kawasan Sudirman Thamrin ini mengatakan, rekayasa yang dilakukan Ditlantas masih terlihat berantakan. Ini terjadi karena banyaknya pengguna jalan yang tidak mengetahui adanya proyek sehingga menghentikan lajur kendaraannya untuk bertanya mencari alternatif jalan demi menghindari kemacetan.
“Tadi pas di Bundaran HI kendaraan saya sempat stagnan. Banyak yang nggak tahu, karena ini kan baru minggu pertama pelaksanaan proyek, jadi mungkin pihak Ditlantas masih belum banyak yang bersosialisasi,†ujarnya.
Kawasan yang memang sudah macet dan padat di jam-jam sibuk kerja maupun pulang kerja ini pun semakin menjadi. Dia berharap, petugas di lapangan bisa lebih sigap mengatur lalu lintas dengan tertib. “Ditindak langsung saja pengendara yang mau duluan, apalagi nyerobot. Semoga bisa cepat selesailah. Pusing juga kalau tiap hari macetnya makin parah,†harapnya.
Sebagai informasi, penggalian dimulai di Bundaran HI, dan akan diikuti titik lain di depan Ratu Plaza dan Senayan pada bulan Juni mendatang.
Bus Tingkat Bakal Digratiskan Menghadapi kemacetan akibat pembangunan stasiun bawah tanah MRT, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyarankan warga DKI untuk naik bus tingkat.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyatakan, pembangunan MRT jelas akan memakan jalur di koridor 1 (Bundaran HI hingga Blok M), sehingga menimbulkan kemacetan. Salah satu solusi yang diberikan pemprov menurutnya adalah memberikan bus tingkat gratis seperti bus pariwisata, agar mampu membantu mengatasi kemacetan.
“Tapi sekarang kita masih menunggu armada bus tingkat dari hibah pihak swasta sebanyak 23 unit. Para penumpang bus tingkat tersebut tidak akan ditarik biaya alias gratis,†katanya.
Setelah bus tersebut datang, lanjutnya, pemprov akan melarang kendaraan roda dua melintasi koridor I. Setelah menerapkan di koridor I, zona larangan melintas untuk sepeda motor juga akan diterapkan di Jalan HR Rasuna Said (lapangan Menteng-perempatan Mampang), Jalan Gatot Subroto (Balai Kartini hingga Slipi), dan Monas hingga Kota Tua via Gajah Mada dan Hayam Wuruk.
“Selain itu, kita juga akan menerapkan parkir otomatis di sepanjang gedung koridor I. Nantinya, pengendara motor dapat menggunakan bus tingkat dan memarkirkan motor tersebut di dalam gedung,†jelasnya.
“Parkir maksimum Rp 5.000. Kalau udah bayar Rp 5.000, sisanya gratis sampai besok pagi. Supaya orang bisa nitipin motor di belakang-belakang gedung lalu untuk naiknya, dari gedung langsung ke bus,†kata bekas Bupati Belitung Timur ini.
Ditambahkan Kepala Dishub DKI Jakarta Muhammad Akbar, selama penggalian stasiun bawah tanah MRT, memang tidak dilakukan penutupan jalan di sepanjang segmen tersebut. Melainkan hanya terjadi penyempitan jalan saja.
“Untuk mengurai kemacetan akibat penyempitan jalan di Bunderan HI hingga Sarinah, kami akan mengalihkan beban kendaraan bermotor ke jalan alternatif yang telah kami tetapkan. Jadi jalan di Thamrin dan Sudirman tidak kita tutup, hanya terjadi penyempitan saja,†ujarnya.
Akbar mengatakan, langkah pertama yang akan dilakukan, pihaknya akan melakukan penyesuaian waktu lampu lalu lintas di persimpangan jalan. Sehingga tidak terjadi penumpukan kendaraan bermotor saat lampu merah.
“Memang pengalihan rute ke jalan alternatif akan muncul tambahan beban bagi jalan alternatif. Kami akan pasang rambu-rambu lalu lintas dan akan aktif melakukan operasi parkir liar di sepanjang jalur alternatif. Sehingga kami dapat meminimalisir kemacetan,†ujarnya. ***