Kembali terbakarnya bus Transjakarta pada akhir pekan lalu, membuat masyarakat khawatir. Padahal, transportasi massal ini mulai menjadi andalan masyarakat ibukota dalam menghindari kemacetan. Pengelola diminta lebih mengoptimalkan perawatan bus demi keselamatan penumpang.
Bagi yang sering menggunakan bus Transjakarta, peristiwa ruÂsaknya bus mungkin bukan hal baru lagi. Bus sering mogok. BiaÂsanya, bus mogok akibat keÂruÂsakan mesin. Penumpang yang ada di dalam bus itu pun terÂpaksa dievakuasi menggunakan bus lainnya.
Yang lebih parah lagi, tak cuma mogok, bus Transjakarta juga disertai percikan api, lalu terbaÂkar. Kejadian seperti itu sangat mengkhawatirkan para pengguna bus. Sebagai transportasi umum, keselamatan penumpang belum 100 persen diperhatikan.
Seperti diketahui, Sabtu (1/3) pekan lalu sebuah bus TransjaÂkarta mogok hingga terbakar, di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat dan di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Sehari beriÂkutÂnya, Minggu (2/3), bus juga terÂbakar di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Tidak hanya itu, tiga bus lainnya juga mogok di kaÂwasan Grogol, Senayan dan Sunter. Akibat peÂristiwa itu, lalu lintas di sekitar pun terganggu.
Adalah wajar jika para pengÂguÂna bus Transjakarta khaÂwatir ketika dihadapkan pada kondisi bus yang bisa membaÂhayakan keÂselamatan seperti ini. Menurut Wawan, seorang pengÂguna setia bus Trans, kondisi bus yang baik saat melayani penumpang meruÂpaÂkan hal yang penting untuk keselamatan pengguna transÂportasi massal itu.
“TaÂkut juga membaca berita ada lagi bus Transjakarta yang terÂbakar, karena saya hampir tiap hari naik busway. Pengawasan terhaÂdap kondisi bus harus diÂtingÂkatkan dan jangan sampai timbul korban jiwa," ujarnya.
Penumpang lainnya, Resty, meÂngaku kecewa dengan kondisi armada bus TransjaÂkarta yang seÂring ia gunakan. Dia meÂngaku tiÂdak heran dengan baÂnyakÂnya bus yang mogok hingÂga terbakar.
PaÂsalnya, saat di dalam bus pun ia banyak meneÂmukan sejumlah keÂrusakan. SeÂbut saja kebocoran pada penÂdingin udara, mesin yang berÂbunyi bising dan meÂngeÂluarkan hawa panas hingga pintu yang rusak.
“Yah takut juga, kalau pas seÂdang apes, saya lagi di dalam bus Transjakarta yang kondisinya jelek lalu mogok atau terbakar seperti itu, bagaimana? Bisa-bisa banyak penumpang enggan mengÂgunakan bus dan beralih kembali naik kendaraan pribaÂdi,†katanya.
Pengamat transportasi dari UniÂversitas Indonesia (UI) Ellen Tangkudung mengatakan, pihak operator berkewajiban meÂrawat dan memastikan kenÂdaÂÂraÂannya aman dan layak. BaÂnyaknya bus yang terbakar bisa jadi diakibatÂkan oleh kelalaian pihak operaÂtor dalam melakuÂkan peraÂwatan.
“Sistem pembayaran operator yang berdasarkan jarak tempuh bisa membuat mereka memakÂsakan pengoperasian bus yang sebenarnya tidak layak jalan. KaÂrena itu, perawatan dan pengeÂcekan kelayakan bus yang meÂmiliki jalur khusus itu harus diÂperketat,†ujarnya.
Menurutnya, pengecekan konÂdisi bus Transjakarta harus dilaÂkukan setiap hari. Setiap bus akan keluar pul. Sebab, sebagai transÂportasi umum yang diguÂnakan terus-menerus, bus TransÂjakarta tentu akan cepat rusak.
Pengawasan tersebut, kata Ellen, tak hanya dilakukan opeÂrator, tapi Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta juga harus memantau langsung kinerja opeÂrator dalam merawat transÂporÂtasi massal ini.
"Perawatan ini sangat penting karena terkait deÂngan keselamatan penumÂpang," ingatnya.
Menurut Ellen, seharusnya BLU Transjakarta mendorong seÂtiap operator memiliki
Standard Operating Procedure Prosedur (SOP) terÂkait pemeliharaan bus. Selain itu, pihak BLU TransjaÂkarta perlu melakukan sidak terÂhadap kelaÂyakan bus TransÂjaÂkarta.
Jika operator sudah melaÂkukan pengawasan secara ketat, tapi maÂsih terjadi kebakaran bus, lanjut Ellen, BLU Transjakarta haÂrus melakukan investigasi. Sebab, diÂkhawatirkan ada seÂsuatu yang salah dengan sistem yang ada.
"Jangan-jangan ada alat yang harusnya sudah diganti, tapi terÂnyata belum," tandasnya.
Jokowi: Laporannya Biasa Ditutup-tutupiGubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku tidak mendapatkan laporan terkait baÂnyaknya bus Transjakarta yang terbakar. Dia menduga Badan LaÂyanan Umum (BLU) TransjaÂkarÂta sering menutup-nutupi hal itu.
"Saya tidak mendapat lapoÂran, harusnya dapat, tapi saya tiÂdak dapat. Yang seperti begitu kan memang biasanya ditutup-tuÂtupi," ujarnya.
Jokowi menduga, permasaÂlaÂhan tersebut muncul karena peÂngelolaan bus yang masih berada di Dinas Perhubungan DKI JaÂkarta. Ia yakin, jika semua bus TransÂjakarta sudah dalam weweÂnang PT Transjakarta, permaÂsaÂlahan itu tidak akan terjadi lagi.
"Sabar, PT Transjakarta kan maÂsih dalam proses," katanya.
Jokowi sebelumnya juga meÂnyaÂtakan akan membuat StanÂdar Pelayanan Minimum (SPM) unÂtuk Transjakarta. Menurutnya, SPM sangat perlu untuk menguÂkur seperti progres pelayanan transportasi massal ini.
Terkait hal ini, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI JaÂkarta Muhammad Akbar meÂnyatakan, SPM Transjakarta seÂdang dirancang drafnya. NanÂtinya akan dijadikan dalam benÂtuk PerÂaturan Gubernur (Pergub).
Menurutnya, selama ini pengÂoperasian Transjakarta tetap diÂawasi oleh Dishub, sebagai lemÂbaga yang membawahi BLU Transjakarta. Pengawasan itu meliputi kualitas pelayanan. SeÂtiap bus mulai keluar dari pul meÂnuju ke jalan dan kembali ke pul kondisinya selalu dicek. Jika meÂngalami kerusakan armada itu diganti dengan armada cadangan.
Begitu juga dengan kondisi praÂmudi akan selalu diperiksa kesehatannya. Pengujian kesehaÂtan ini untuk memastikan keselaÂmatan ratusan penumpang.
“Salah-salah, nyawa penumÂpang taruhannya,†kata bekas Kepala BLU Transjakarta ini.
Kepala Humas BLU TransjaÂkarta Sri Ulina Pinem menjelasÂkan, perawatan armada bus TransÂjakarta diserahkan kepada masing-masing perusahaan yang dipercaÂya menjaÂdi operator. Sementara BLU TransÂjakarta sebagai pihak pengeÂlola akan terus melakukan pengaÂwasan kepada mereka.
“Setiap harinya bahkan kita mÂelakukan sidak di jalur-jalur terÂtentu. Jika ditemukan bus yang kondisinya tidak layak jalan, akan kita pulangkan. Kalau masyaraÂkat menemukan kondisi bus yang tidak semestinya, silakan adukan ke noÂmor layanan BLU TransjaÂkarta yang ada di setiap bus,†katanya.
Sri Ulina mengatakan, setiap aduan maupun keluhan terkait konÂdisi bus Transjakarta akan diteÂruskan kepada operator yang berÂsangkutan. Pihaknya akan meÂlakukan pengecekan kepada opeÂrator yang bersangkutan. Jika beÂnar, akan dilakukan teguran.
“KaÂÂlau sudah ditegur namun konÂdiÂsinya masih seperti itu saja, akan diÂÂberikan sanksi denda,†tandasnya.
Sejak dioperasikannya pada 2004, bus Transjakarta beÂlum mampu menjadi moda tranÂsporÂtasi umum andalan masyaÂrakat ibukota. Semakin lama, kondisi transportasi massal ini bukan seÂmakin membaik, tapi justru sebaÂliknya. KuaÂlitas kendaraan serta pelayanan masih menjadi permaÂsalahan yang banyak dikeluhkan para penggunanya. ***