Berita

boediono/net

Boediono Pun Semakin Kesepian…

MINGGU, 16 FEBRUARI 2014 | 09:50 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pernyataan ekonom Faisal Basri membela keputusan mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono dalam kasus Bank Century dianggap sebagai tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa Boediono yang kini Wakil Presiden itu semakin kesepian.

Seorang ekonom mengatakan dirinya baru-baru ini diundang tampil di sebuah talk show untuk membela kebijakan Boediono itu. Ia menolak karena menurutnya susah membela kebijakan bailout Bank Century yang akhirnya bablas ke angka Rp 6,7 triliun itu. Apalagi ternyata hingga kini bank yang telah bertukar nama menjadi Bank Mutiara itu pun masih dililit persoalan yang sama dan sudah mendapatkan suntikan dana lebih dari Rp 1 triliun.

Informasi yang beredar di kalangan ekonom juga menyebutkan bahwa Boediono kecewa dengan beberapa pejabat otoritas keuangan dan perbankan yang diharapkannya mau membela. Pejabat-pejabat ini dalam pernyataan mereka beberapa waktu lalu, kembali menyampaikan keraguan terhadap definisi sistemik yang digunakan Boediono sebagai alasan untuk menggelontorkan bantuan dari BI pada November 2008.


Kalangan ekonom ini juga semakin yakin bahwa Boediono gampang "tergoda jabatan".

Salah satu contoh yang masih diingat oleh mereka adalah ketika BJ Habibie menggantikan Soeharto bulan Mei 1998. Ada dua dosen Universitas Gadjah Mada yang mendapat tawaran jadi menteri, Ichlasul Amal yang ketika itu Rektor UGM dan Boediono.

Ichlasul Amal menolak masuk UGM dengan alasan menjadi Rektor UGM lebih terhormat. Kalangan mahasiswa UGM ketika itu juga mendorong agar kedua gurubesar UGM itu menolak jabatan menteri karena menilai Habibie merupakan kepanjangan tangan Soeharto.

Berbeda dengan Ichlasul Amal, Boediono menerima tawaran menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Bagaimana dengan pembelaan Faisal Basri?

Sikap Faisal Basri membela Boediono ini bukan sesuatu yang mengagetkan. Seorang ekonom mengatakan, bila dicari di mesin pintar seperti Google, tidak ada catatan Faisal Basri pernah mengkritik ekonom beraliran Berkeley, Boediono dan Sri Mulyani.

Adapun alasan-alasan yang disampaikan Faisal Basri mengenai sifat darurat ekonomi di periode 2008 itu pun sebenarnya telah dibantah sejumlah ekonom beraliran kerakyatan seperti Rizal Ramli dan Ichsanuddin Noersy. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya