Rusia menerapkan aturan baru mengenai adopsi anak Rusia oleh warga negara asing. Peraturan tersebut tercantum dalam surat keputusan yang telah ditandatangani oleh Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev, yang dipublikasikan di website resmi pemerintah.
Seperti dilansir Russia Today pada Kamis (13/2), surat keputusan tersebut berisi aturan bahwa anak-anak Rusia boleh diadopsi oleh orang asing yang telah dewasa dan menikah. Tapi dengan dua pengecualian; anak-anak Rusia dilarang diadopsi oleh pasangan yang tidak menikah (kumpul kebo) atau pasangan sejenis yang berasal dari negara di mana pernikahan sejenis dilegalkan.
Aturan tersebut diberlakukan demi melindungi anak adopsi dari potensi pengaruh buruk seperti meniru atau tertekan dengan perilaku hubungan sejenis yang dilakukan oleh orang tua adopsi atau lingkungan di mana pasangan sejenis itu dilegalkan. Pertimbangan tersebut didasarkan pada studi psikologis yang menyebut bahwa anak yang diadopsi oleh pasangan sejenis cenderung mengalami penyimpangan tersebut.
Gagasan mengenai pelarangan adopsi anak oleh pasangan sejenis di Rusia telah muncul sejak tahun 2013.
Untuk diketahui, Rusia memiliki perjanjian bilateral dengan sejumlah negara terkait adopsi anak. Pada tahun 2012, negara yang paling banyak mengadopsi anak dari Rusia adalah Amerika Serikat, Italia, Spanyol, dan Prancis.
Namun mulai 1 Januari 2013 lalu, Rusia dengan tegas menghentikan adopsi anak oleh warga Amerika Serikat ataupun organisasi perwakilannya. Pelarangan tersebut terjadi menyusul adanya masalah penganiayaan dan pembunuhan anak Rusia yang diadopsi warga Amerika Serikat. Penegak hukum setempat juga tidak menindak tegas kejadian tersebut.
Pada tahun 2008, seorang anak laki-laki berusia dua tahun asal Rusia, Dima Yakovlev, ditemukan tewas karena dikunci oleh ayah adopsinya di Amerika Serikat selama enam jam. Ayah adopsinya dikenai dakwaan percobaan pembunuhan, namun ia tidak ditahan. Hal tersebut memicu protes dari diplomat Rusia, media massa, dan masyarakat.
Aturan baru tentang adopsi anak di Rusia tersebut juga melibatkan Duma Negara atau lembaga legislatif Rusia. Wakil Duma Negara, Yelena Mizulina, menyebutkan bahwa peraturan baru tersebut juga dibuat atas pertimbangan bahwa anak Rusia bisa saja diadopsi oleh pasangan heteroseksual, namun kemudian bisa diberikan ke pasangan sesama jenis di negaranya.
Sejumlah negara melegalkan hubungan sesama jenis, di antaranya adalah Belanda Prancis, Belgia, Spanyol, Kanada, Norwegia, Swedia, Selandia Baru, dan sebagian Inggris.
Aturan baru tersebut juga memangkas waktu bagi petugas dalam pertimbangan untuk memberikan izin atas pengajuan permohonan adopsi dari warga negara asing dari, yang semula 15 hari menjadi 10 hari.
[ald]