Berita

dr. rizal ramli

Kadin Dukung Penuh Pemerintah Terapkan UU Minerba

KAMIS, 06 FEBRUARI 2014 | 15:18 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendukung penuh pemerintah menerapkan UU 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Ketua Umum Kadin Indonesia Dr. Rizal Ramli, di Jakarta, Kamis (6/2), mengingatkan, pemerintah jangan takut menghadapi Freeport dan Newmont.

"UU Nomor 4/2009 sudah bagus dan sesuai dengan konstitusi. Karena membela kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia. Karena itu, Kadin sangat mendukung pemerintah menerapkannya sesuai dengan jadwal waktu yang ditentukan,” katanya.


UU 4/2009 tentang Minerba berlaku efektif pada 12 Januari 2014. UU tersebut antara lain mengharuskan perusahaan membangun smelter untuk mengolah dan memurnikan hasil tambangnya di dalam negeri. Artinya, mereka tidak boleh lagi melakukan ekspor bahan mentah lagi seperti selama puluhan tahun.  

Selanjutnya diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 6/2014 yang menyebutkan perusahaan tambang yang sudah melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri, masih boleh mengekspor minerba mentah namun harus membayar bea keluar (BK) sebesar 20-60%.

Setelah menolak membangun smelter (pengolahan dan permunian), perusahaan pertambangan besar kini mempersoalkan Bea Keluar tersebut. Mereka bahkan mengancam akan membawa masalah ini ke arbitrase internasional jika pemerintah tetap ngotot memaksakannya.

Terkait soal ini, Rizal yang juga peserta Konvensi Rakyat Capres 2014 ini menyatakan Kadin di bawah kepemimpinannya memang bermaksud mengambil jarak dengan pemerintah. Hal ini dimaksudkan agar Kadin tetap independen dan berjuang menyuarakan kepentingan nasional supaya bisa memberi kontribusi positif bagi pembangunan ekonomi nasional.

Meski demikian, lanjut DR Rizal Ramli, Kadin juga harus tetap objektif. Selama kebijakan pemerintah sudah benar dan sesuai dengan konstitusi, Kadin tidak segan-segan mendukung dengan sepenuh hati.  

“UU Minerba yang antara lain mengharuskan pembangunan  smelter (pemurnian) itu sangat bermanfaat. Pasalnya, smelter akan memberi nilai tambah dan keuntungan jangka panjang bagi Indonesia. Selain itu, juga membuka lapangan kerja baru yang cukup signifikan. Itulah sebabnya tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menunda pemberlakuannya, apalagi UU sudah memberi jangka waktu selama empat tahun sejak diundangkan. Pemerintah tidak perlu takut menghadapi ancaman Freeport dan Newmont kalau mereka mau membawa masalah ini ke arbitrase internasional. Seluruh rakyat Indonesia pasti akan berdiri di belakang pemerintah,” ungkapnya.

Ekonom senior yang dikenal gigih mengusung ekonomi konstitusi ini mengaku mendengar adanya pihak-pihak tertentu yang berupaya melobi dan menekan pemerintah, agar pelaksanaan UU Minerba ditunda lagi. Mereka yang menolak ini adalah para elit, yang baik langsung maupun tidak langsung, berkepentingan dengan perusahaan-perusahaan besar yang ingin menunda pembangunan smelter.

Mantan aktivis ITB yang belakangan akrab disapa RR1 ini prihatin terhadap orang-orang seperti ini. Dia heran, kok bisa mereka berjuang membela kepentingan asing dan melawan kepentingan bangsanya sendiri dengan berdalih perlu waktu untuk membangun smelter.

"Bukankah UU sudah memberi tenggat waktu selama empat tahun sejak diundangkan? Kemana saja dan apa saja yang mereka lakukan selama ini? Bukankah perusahaan-perusahaan tambang itu telah mengeruk kekayaan alam Indonesia dalam jumlah sangat besar selama puluhan tahun? Wajar kalau pemerintah membuat aturan agar bangsa Indonesia memperoleh nilai tambah dari hasil tambang yang digali dari bumi kita,” demikian DR. Rizal Ramli.  [zul]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya