Berita

Publika

Mengapa Film Soekarno Harus Dilarang Beredar

SABTU, 01 FEBRUARI 2014 | 08:29 WIB

NIAT membuat film tentang tokoh bangsa perlu diapresiasi dalam rangka menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap sejarah Indonesia, khususnya the founding fathers, sehingga generasi muda tidak ahistoris. Pembuatan film tersebut merupakan cara popular pendidikan politik.

Namun perlu dicatat, demikian besarnya tanggung jawab tersebut, maka pembuatan film sejarah, khususnya yang berkaitan dengan tokoh-tokoh bangsa, bukanlah pekerjaan mudah. Sebab harus mampu merepresentasikan secara utuh karakter tokoh yang difilmkan.

Film Soekarno karya sutradara Hanung Bramantyo yang telah beredar merupakan salah satu contoh film yang tidak mampu merepresentasikan karakter figur Soekarno seutuhnya. Hal tersebut dapat dilihat dari, pertama, film tersebut kurang mampu mengangkat sisi ideologisnya Soekarno. Mulai dari mencetuskan ideologi Marhaenisme sampai puncaknya pada pidato 1 Juni 1945 Hari Lahir Pancasila.


  Kedua, film tersebut juga tidak mampu mengangkat sisi perjuangan Soekarno seperti momentum perjuangan selama kuliah sekaligus terjun di dunia pergerakan, melakukan pengorganisasian massa serta mendirikan PNI tahun 1927 pada saat berusia 26 tahun. Bukan menampilkan Soekarno sebagai kolaborator Jepang.

Ketiga, film tersebut juga tidak menampilkan proses intelektual Soekarno sehingga menjadi seorang pejuang dan orator ulung. Padahal ketekunan dan banyaknya buku yang dibaca Sukarno merupakan fondasi Sukarno menjadi seorang orator ulung yang seyogyanya ditampilkan dalam film tersebut. Sehingga menjadi pendidikan politik bagi anak bangsa. 

Keempat, film tersebut juga tidak mengangkat sisi kerakyatan Sukarno. Padahal kedekatan Soekarno dengan rakyat khususnya rakyat kecil merupakan salah satu ciri khas Soekarno.

Kelima, film tersebut lebih menonjolkan persoalan pribadi dan keluarga Soekarno dan mengesampingkan sisi perjuangan seorang Soekarno yang sebenarnya berguna bagi generasi muda.

Dengan demikian kami berpendapat bahwa film tersebut belum merepresentasikan sosok Soekarno dan merupakan pembodohan terhadap anak bangsa khususnya generasi muda.

Bahkan, Hanung Bramantyo lewat karyanya tersebut, telah melecehkan Presiden dan DPR yang beberapa waktu yang lalu menetapkan Bung Karno sebagai Pahlawan Nasional. Karena film tersebut menciptakan karakter baru Soekarno yang tidak sesuai dengan karakter Soekarno yang menjadi pertimbangan bagi Presiden SBY dalam mengeluarkan Keputusan Presiden 83/2012 tentang penetapan Bung Karno sebagai Pahlawan Nasional dan kriteria-kriteria pahlawan nasional yang ditetapkan oleh DPR bersama presiden lewat UU 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Seharusnya kedua aturan tersebut juga menjadi rujukan bagi Hanung Bramantyo dalam membuat film Soekarno.

Film tersebut juga telah melanggar UU 33/2009 tentang Perfilman, khususnya Pasal 6 poin c yang melarang kegiatan perfilman dan usaha perfilman mengandung isi yang memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok. Sehingga film tersebut harus segera ditarik dan dilarang beredar. [***]

Twedy Noviady Ginting
Ketua Presidium GMNI

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya