Berita

foto: net

Politik

Eksponen 98: Konsolidasi Orba Terjadi di Bawah Rezim SBY

SENIN, 16 DESEMBER 2013 | 18:23 WIB | LAPORAN:

Banyak rakyat yang dilanda ilusi, seolah-olah lebih aman dan sejahtera hidup di zaman pemerintahan Orde Baru pimpinan Soeharto jika dibanding zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Padahal, yang terjadi sesungguhnya rezim SBY-Boediono adalah rezim penerus Orde Baru karena semua kebijakannya hampir sama. Demikian disampaikan aktivis anti-Orde Baru, Ahmad Kasino, dalam pernyataan persnya yang diterima Rakyat Merdeka Online, Senin sore (16/12). Dia mengkritik keras tumbuhnya kerinduan rakyat pada stabilitas Orde Baru.

Dia ingatkan, cita-cita reformasi pada tahun 1998 adalah merobohkan sistem Orde Baru yang otoriter, korupsi, kolusi dan nepotisme. Strategi pembangunan Orba yang hanya mementingkan pertumbuhan dan stabilitas membuat kue pembangunan hanya dinikmati oleh segelintir oligarki Orde Baru yang punya akses cukup dekat pada kekuasaan. Rakyat hanya menjadi objek kekuasaan sehingga kemiskinan dan kebodohan melekat pada ketidakberdayaan rakyat.


"Pancasila dan UUD 1945 yang luhur pada masa Orba hanya dipakai sebagai stempel dan program indoktrinasi kepada rakyat untuk tidak bersikap kritis karena kalau bersikap kritis maka akan dianggap sebagai penggangu jalannya pembangunan," ujar salah satu eksponen gerakan reformasi 98 ini.

Menurut dia, sebenarnya, momentum reformasi 1998 harus mengembalikan haluan berbangsa benegara sesuai tujuan di dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu mengantarkan rakyat Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.

"Tapi kenyataannya rezim pasca Orde Baru ini belum bisa melaksanakan amanah reformasi dan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945. Situasinya malah semakin rusak. Korupsi, kolusi dan nepotisme malah tumbuh semakin subur," ujarnya.

Kemudian, di zaman reformasi ini pula haluan ekonomi politik yang menghamba kepada kepentingan asing terlihat dari penguasaan sumber daya alam dan energi oleh perusahaan asing. Di masa pemerintahan SBY-Boediono pun, budaya gotong royong sudah hilang dengan makin banyaknya konflik rakyat bernuansa SARA

"Supaya konsolidasi Orba di bawah rezim SBY-Boediono tidak berlanjut mengukuhkan oligarkinya, maka harus ada kekuatan rakyat untuk melakukan perubahan dengan jalan people movement," tandasnya. [ald]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya