Berita

ilustrasi/net

BRI

Gairahkan Pertanian, BRI Salurkan Kredit Perkebunan Rp 26,4 Triliun

RABU, 11 DESEMBER 2013 | 22:50 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

  Perkebunan merupakan primadona dalam percepatan pembangunan daerah terutama di perdesaan. Perkebunan dinilai mampu memberi dampak (baik langsung maupun tidak langsung) terhadap perekonomian masyarakat. Untuk itu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berkomitmen menggairahkan sektor ini melalui pembiayaan.

Hal tersebut diutarakan Direktur BRI Randi Anto di sela-sela acara Peringatan Hari Perkebunan ke-56 di Semarang belum lama ini.

 â€œSampai September 2013, BRI telah menyalurkan kredit untuk sektor perkebunan (diluar pertanian tanaman pangan) lebih dari Rp 26,4 triliun, “ ujar Randi.


Dikatakannya, kredit itu disalurkan baik kepada masyarakat, koperasi, perusahaan BUMN dan perusahaan swasta nasional. “Dengan total luas lahan lebih dari 1.200.000 ha,” ujar Randi.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, per Agustus 2013 total ekspor komoditi pertanian per subsektor pertanian senilai US$ 75 juta (0,44 persen) untuk tanaman pangan, Holtikultura US$ 230 juta (1,33 persen), sedangkan perkebunan mencapai US$ 16.955 juta dengan kontribusi sebesar 98,23 persen.  

“Hal ini menggambarkan betapa strategisnya pembiayaan di sektor perkebunan,” ujar Randi.

Selain itu, pembangunan perkebunan terbukti mampu meningkatkan daya saing ekonomi negara. Sebagian besar hasil perkebunan merupakan komoditas ekspor yang sangat besar dalam menyumbang devisa negara, terutama komoditi kelapa sawit, yang merupakan komoditi andalan diluar sektor migas. “Dan juga mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian (khususnya perkebunan),” sambung Randi.

Data BPS menunjukkan bahwa lebih dari 33 persen angkatan kerja bekerja di sektor pertanian terutama sub sektor perkebunan. Oleh karena itu, pembangunan di sektor perkebunan merupakan isu yang sangat strategis. Sebab selain mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi tingkat kemiskinan, juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.  

Oleh karena itu, strategi  pembiayaan BRI di sektor perkebunan diarahkan pada konsep pro job, pro poor dan pro growth. BRI sebagai Bank yang komit dalam pembangunan pertanian khususnya perkebunan, telah berpartisipasi dalam pengembangan perkebunan dengan berbagai macam pembiayaan pembangunan perkebunan yang berbasis agribisnis dari mulai pembiayaan hulu, hilir hingga support terhadap beberapa komoditi unggulan seperti kelapa sawit, karet, kakao, tebu serta komoditi lainnya.

Randi menjelaskan, BRI  menganut model pembiayaan luas pada berbagai  strata masyarakat. Model ini dapat mengakomodir pembiayaan kepada  petani untuk mendorong peningkatan produk Pertanian.  Model ini diawali dari pembiayaan yang murni bersifat bantuan (direct cash assistance) melalui program CSR.  Selanjutnya pemberdayaan masyarakat dilanjutkan dengan menggunakan pemberian soft loan melalui kelompok kerja/tani dengan suku bunga yang rendah melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL).  

“Apabila kemampuan ekonomi masyarakat sudah mulai berkembang, maka model pembiayaan berikutnya adalah melalui pembiayaan dengan pola subsidi bunga seperti pola KKPE dan KPEN-RP,” pungkas Randi.  

Untuk masyarakat yang usahanya mulai bergerak ke arah komersial namun belum memenuhi persyaratan perbankan terutama dalam hal penyediaan agunan kredit, maka BRI melakukan pembiayaan melalui spesial skim dengan pola asuransi kredit seperti KUR guna mitigasi risiko terhadap agunan kredit.  “Apabila masyarakat sudah benar-benar dipandang mampu secara ekonomi, maka model pembiayaan yang disalurkan BRI adalah fully comercial seperti Kupedes, KI dan KMK,” terang Randi.

Pembiayaan yang dilakukan BRI terhadap pembangunan perkebunan dilakukan mulai dari pembiayaan kepada masyarakat desa (dengan skim Kupedes, KUR Tanaman Keras, KPEN-RP dan KKPE), pelaku bisnis menengah hingga bisnis korporasi.  Harapannya, agar pembangunan perkebunan memberi dampak yang positif terhadap perekonomian masyarakat, dimana selain BRI memberikan pembiayaan kepada perusahaan, BRI juga memberikan pembiayaan kepada usaha masyarakat yang terkait dengan perusahaan tersebut dengan sistem manajemen satu atap dalam pembangunan kebun.

Selain penyaluran kredit kepada sektor perkebunan, BRI juga telah aktif dalam membuka jaringan perbankan (seperti pembukaan kantor BRI, ATM BRI , EDC BRI) di wilayah pedesaan terutama yang dekat dengan areal perkebunan baik perkebunan rakyat maupun perkebunan perusahaan. Selain berdampak terhadap perkembangan ekonomi masyarakat pedesaan, pembangunan jaringan perbankan dapat mengurangi risiko peredaran fisik uang (cashless) dan dapat mendidik masyarakat pedesaan untuk memanfaatkan jasa perbankan di daerahnya masing-masing.

Revitalisasi Perkebunan

Salah satu upaya untuk mempercepat pengembangan pembangunan sector perkebunan adalah melalui program revitalisasi perkebunan yaitu upaya percepatan perkebunan melalui perluasan,  peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan yang didukung kredit investasi perbankan dan subsidi bunga pemerintah dengan atau tanpa melibatkan perusahaan di bidang usaha perkebunan sebagai mitra dalam pengembangan perkebunan, pengolahan dan pemasaran hasil.

BRI telah memberikan komitmen pembiayaan dengan plafon KPN-RP sebesar Rp 12 triliun (untuk komoditi Kelapa Sawit, Karet dan Kakao). “Saat ini telah disalurkan sebesar Rp 5,26 triliun dengan melibatkan 98 koperasi dan 45.716 KK petani serta luas areal kebun mencapai 97.232 ha. Sedangkan untuk non kemitraan BRI telah menyalurkan Rp. 171,7 miliar dengan 8.104 KK petani dengan luas lahan 16.208 ha,” papar Randi. [dzk]


Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya