Berita

foto: net

Bisnis

Peneliti: Indonesia di Bawah Kontrol Kartel Tambang Internasional

SELASA, 10 DESEMBER 2013 | 07:41 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Langkah pemerintah Indonesia untuk melarang ekspor mineral mentah ternyata bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi diduga kuat datang dari permintaan kartel tambang asing.

Hal ini terlihat dari melonjaknya harga komoditi mineral secara signifikan yang berarti cadangan mineral di pasaran dunia mengalami penurunan dan dikuasai hanya oleh segelintir kelompok petambang level internasional.

"Pelarangan ekspor sendiri membuat kelompok ini mendapatkan keuntungan berlipat yaitu membunuh pesaing potensial, petambang mineral Indonesia dan membuat harga komoditi mereka terjual dengan keuntungan berlipat karena pasar dunia hanya diisi oleh komoditi milik mereka," kata  peneliti Indonesia Economic Development Studies (IEDS), Musyafaur Rahman, dalam kiriman rilis, Selasa pagi (10/12).


Menurut dia, kepentingan kartel tambang internasional tidak akan terganggu mengingat sumber tambang mereka tidak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia. Mematikan suplai dari Indonesia jelas akan memberi mereka peluang untuk lebih lama lagi mengumpulkan kapital.

Sementara dengan ketiadaan infrastruktur dan keengganan negara untuk mengelola sumber daya alamnya sendiri, pembangunan smelter menjadi barang mahal dan menggerus kapital para petambang mineral nasional.

"Semangat UU Minerba yang ingin agar sumber daya alam di tanah air dapat mensejahterakan rakyat dijadikan cover oleh pemerintah untuk mengambil untung dari kartel internasional. Hal ini sangat berbahaya mengingat Pemilu 2014 sudah di depan mata," ujarnya.

Pertemuan intensif yang dilakukan pemerintah dengan berbagai petambang internasional diduga menjadi alasan utama adanya kebijakan yang secara ekonomi saat ini akan berimplikasi pada semakin terpuruknya nilai tukar rupiah. Ujung-ujungnya, akan memberi peluang bagi kartel internasional masuk dan menentukan hasil pemilu 2014 lewat janji investasi. [ald]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya