Berita

Lee Soon-sil/rmol

Dunia

Kisah Lee, Tentara Wanita Korea Utara yang Melarikan Diri

RABU, 09 OKTOBER 2013 | 22:05 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Sepintas Lee Soon-sil tampak tegar. Wanita yang lahir di Potonggang, sebuah distrik di Pyongyang, Korea Utara, tahun 1968 itu pernah bertugas sebagai perawat di Tentara Korea Rakyat. Ia bergabung dengan Tentara Rakyat Korea pada tahun 1991 dan dipecat sebelas tahun kemudian.

Lee tidak menceritakan detil mengapa ia dipecat. Tetapi sebutnya, darah tentara yang mengalir deras di tubuhnya diwariskan kedua orangtuanya. Ayah Lee adalah seorang anggota divisi konstruksi Tentara Rakyat Korea. Ibunya juga seorang tentara. Begitu juga empat saudaranya.

Tapi sekuat dan setegar apapun Lee tak dapat menahan emosi menceritakan kepedihan hatinya berpisah dengan anak perempuannya ketika melarikan diri ke China tahun 2007 silam.




Hari Senin kemarin (7/10) di kantor Komnas HAM Korsel di Seoul, Lee memberikan keterangan di depan belasan jurnalis asing yang diundang Arirang TV. Lee tidak sendirian. Dua defectors lain, Kim Su-kyung dan Kim Soo-pyeong, juga menyampaikan kisah pelarian mereka.

Di dalam bahasa Korea, pelarian atau defector disebut talbukja.



Menurut cerita Lee, delapan kali ia berusaha melarikan diri dari Korea Utara sejak dipecat dari dinas militer tahun 1991.

Pada upaya melarikan diri yang kedelapan ia tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara bersama tahanan politik lain. Di dalam penjara Lee disiksa, bahkan di depan anaknya yang masih kecil. Siksaan yang dia alami tak terbayangkan, kata Lee. belum lagi pelecehan seksual yang dilakukan tentara Korea Utara. Luka akibat siksaan selama di dalam penjara hingga kini masih meninggalkan bekas di punggung Lee.


"Pengalaman di penjara Korea Utara membuat saya menjadi wanita yang dingin dan sangat depresi dalam empat tahun pertama di Korea Selatan. Kini saya mau bicara kepada dunia tentang apa yang dilakukan Korea Utara kepada kami," demikian Lee.


 Lee dan anak perempuannya baru berhasil keluar dari Korea Utara pada upaya kesembilan. Seorang broker membantu pelarian itu dan membawanya ke China. Di sinilah tragedi lain menimpa. Sang broker menjual Lee dan anaknya secara terpisah kepada penyelundup manusia (human trafficker).

Perpisahan itu sungguh menyakitkan, tapi Lee tak punya pilihan selain melanjutkan kehidupan dirinya dan anaknya walau harus berpisah. Dia percaya kelak takdir akan mempertemukan mereka.



Ia rajin tampil di layar televisi memberikan kesaksian dalam program "Dalam Perjalananku Bertemu Denganmu" yang ditayangkan Channel A Korea Selatan. Selain di Channel A ia juga kerap diundang NBC dan KBS. Selain itu, Lee juga menjadi bintang iklan makanan hewan peliharaan impor "Chao-chao" dari China.

Karena itu Lee tidak mengubah penampilan. Rambutnya tetap dibiarkan pendek dan kriting.



"Semakin sering saya muncul di televisi, semakin besar kemungkinan anak saya melihat saya. Saya harap dia masih hidup dan masih mengingat saya," sambung Lee yang kini memiliki sebuah restoran di Kangreung, Provinsi Kangwon.



Pelarian dari Korea Utara terjadi tak lama setelah perjanjian gencatan senjata ditandatangani Korea Utara dan PBB sebagai penanda berakhirnya Perang Korea (1950-1953). Sejumlah catatan memperkirakan sejak saat itu antara 100 ribu hingga 300 ribu orang Korea Utara melarikan diri ke Rusia dan China. Sementara sekitar 25 ribu lainnya melarikan diri ke Korea Utara.

Untuk menampung pelarian ini, pemerintah Korea Selatan membangun semacam pusat integrasi atau pendidikan yang dikenal dengan nama Hanawon. Di tempat ini pelarian dari Korea Utara diberi pendidikan dasar selama tiga bulan agar bisa meleburkan diri ke tengah masyarakat Korea Selatan. Hanawon dibuka pertama kali pada 1994. Hanawon kedua didirikan lima tahun kemudian.

Pemerintah Korea Selatan menyebutkan dalam dua tahun terakhir jumlah talbukja yang masuk Korea Selatan berkurang. Hal ini diperkirakan karena pemerintah Korea Utara mempertegas tindakan terhadap orang yang tertangkap saat melarikan diri. Bahkan kalau perlu dieksekusi.

Menurut Lee umumnya pelarian dari Korea Utara menggunakan jasa broker dan misionaris. Bila menggunakan broker mereka harus mau membayar uang jasa. Seringkali ini menjadi utang yang berkepanjangan. Atau, seperti yang dialami Lee, sang pelarian dari Korea Utara itu dijual oleh sang broker kepada pihak ketiga.

Sebaik-baiknya menjadi talbukja, menurut Lee, adalah dengan mengikuti misionaris.

"Orang Korea (Utara) beranggapan, kalau kita mengunjungi gereja, kita akan mendapatkan tempat perlindungan dan makanan. Misionaris inilah yang memberikan bantuan ril," ujarnya lagi. [guh]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya