Berita

foto: net

Hukum

Eman Suparman Jelaskan Kronologi Suap Anggota Komisi III

SABTU, 21 SEPTEMBER 2013 | 09:30 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Proses uji kelayakan dan kepatutan calon hakim agung yang diselenggarakan di Komisi III DPR selalu saja mengeluarkan bau tak sedap. Untuk kali ini, ada fenomena "pertemuan di toilet" antara calon hakim agung dengan anggota Komisi III.

Lebih menyentak lagi, pengakuan salah satu pimpinan Komisi Yudisial (KY), Imam Anshori Saleh, yang mengungkapkan pengalamannya coba disuap oleh anggota Komisi III saat melakukan seleksi hakim agung di internal KY.

Dalam diskusi bertajuk "Transaksionalisasi di DPR" yang saat ini masih berlangsung di bilangan Cikini, Jakarta Pusat (Sabtu, 21/9), Ketua Bidang Pengawasan Hakim dan Investigasi KY, Eman Suparman, membeberkan apa yang diketahuinya seputar pengakuan koleganya itu.


"Seingat saya kejadiannya di 2012 akhir atau awal, kami sedang pleno. Tiba-tiba saat membahas calon X ini, Pak Imam Anshori nyeletuk ada orang DPR membagikan uang asal X lolos. Si X ini rekam jejaknya bagus pernah memimpin pengadilan tinggi yang cukup besar," kata Eman.

Dia terangkan kalau uang itu dibag-bagiikan maka tiap pimpinan KY akan mendapat Rp 200 juta. Saat itu timbul dilema. Walau si X itu adalah calon hakim agung yang pintar dan berpengalaman, KY tetap ragu untuk meloloskannya karena akan rawan kena fitnah.

"Kalau lolos kami akan difitnah walau kami tidak terima duit. Lalu bagaimana pertanyaan dari wartawan kok orang pintar tak diloloskan? Saya jawab, integritas itu bukan cuma integritas intelektual tapi juga integritas moral," ucapnya.

Dia jelaskan, tak kurang dari 3 orang di Komisi III DPR yang menelepon saat itu untuk minta X lolos. Mereka berasal dari fraksi yang berbeda-beda.

Imam Anshori sendiri kepada beberapa media belakangan ini mengakui, saat dicoba disuap itu dia tidak langsung memberitahukan peristiwa tersebut kepada teman-temannya pimpinan KY. Ia membiarkan seleksi terus berjalan.

Namun, Anshori jelaskan, ketika rapat penentuan kelulusan ia pun tegas menggunakan hak veto. Dia mengatakan tidak bisa meloloskan calon tersebut karena ada tawaran uang. Lalu, KY akhirnya sepakat tidak meloloskannya.  [ald]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya