Berita

margarito kamis/net

Politik

SBY Tetap Berhak Menimbang Peluang Jadi Cawapres

KAMIS, 19 SEPTEMBER 2013 | 17:17 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Pemikiran yang menyarankan Presiden SBY mencalonkan dirinya kembali sebagai calon wakil presiden di Pilpres 2014 sebenarnya tak menabrak aturan konstitusi. Namun, hal itu dapat dikatakan sebagai politisasi konstitusi dengan memanfaatkan celah yang ada.

Pakar tata negara, Margarito Kamis, menyebut wacana yang dilontarkan bekas Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, itu sebagai "tafsir konstitusi Abu Nawas".

"Saya kira Anas melemparkan wacana itu tidak serius. Tapi, kalau presiden SBY mau menanggapinya serius, ya itu hak dia," kata Margarito kepada Rakyat Merdeka Online, Kamis petang (19/9)


Dia mengatakan, jabatan kepresidenan adalah satu lembaga yang terdiri dari presiden dan wakil presiden. Sangat tak beretika bila seorang yang baru saja dipaksa pensiun oleh konstitusi malah melakukan akal-akalan agar bisa masuk kembali ke dalamnya.

"Secara detail tidak ada pasal yang melarang orang sudah dua kali presiden mencalonkan jadi cawapres. Tapi itu tak etis dan tak sejalan dengan kaidah lembaga kepresidenan," ucapnya.

Terlepas dari persoalan etika itu, doktor hukum asal Ternate ini menilai usulan tersebut justru merendahkan Presiden SBY sendiri. Karena, persoalan ini sama sekali beda dengan langkah politik SBY yang rela turun pangkat menjadi Ketua Umum Partai Demokrat untuk menyelamatkan elektabilitas partai.

"Tapi sekali lagi, kalau SBY mau menanggapi serius ya terserah dia. Tapi usulan ini saya pikir merendahkan SBY dan lucu-lucuan saja," tegasnya.

Dan bila SBY mengikuti saran Anas Urbaningrum itu, maka akan timbullah perdebatan luar biasa ramai di republik ini.

"Kalau SBY mengikuti, langit konstitusi kita akan sangat berwarna-warni. Konstitusi kita memang punya lubang politisasi. Itu yang dilihat Anas hingga membuatnya mengeluarkan pernyataan politik," tandasnya. [ald]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya