Berita

anhar gonggong/net

Politik

Ini Alasan Anhar Gonggong Tolak Keras Permintaan Maaf Belanda

RABU, 04 SEPTEMBER 2013 | 18:47 WIB | LAPORAN:

Sejarawan terkemuka, Anhar Gonggong, menolak kompensasi maupun permintaan maaf pemerintah Belanda atas pembantaian yang dilakukan Raymond Pierre Paul Westerling, kecuali Belanda mengakui dua hal, yaitu mengakui kemerdekaan RI adalah tahun 1945 dan mengakui bahwa pihaknya pernah melakukan pelanggaran HAM dalam berbagai bentuk di Indonesia demi mengembalikan kekuasaan kolonialisme antara tahun 1945-1949.

Anhar Gonggong adalah salah satu warga Indonesia yang sebagian anggota keluarganya, termasuk ayahnya, dibantai oleh pasukan Westerling saat menyisir desa-desa di Sulawesi Selatan pada 1946-1947.

Penolakan atas permintaan maaf itu ditegaskan Anhar dalam diskusi permintaan maaf Belanda atas kasus Westerling yang digelar hari ini (Rabu, 4/9) di gedung DPD RI, Senayan, Jakarta. Disebutkan Anhar juga, korban tragedi Westerling adalah ratusan orang. Sedangkan yang diberi kompensasi hanya sembilan orang.


"Tidak ada kata paling tepat selain Westerling memang pernah melakukan pembunuhan yang melanggar HAM. Dia sendiri mengakui di bukunya bahwa dia membunuh 400 orang, di buku yang lain dia mengaku bunuh 600 orang dengan tangannya sendiri. Jadi Westerling memang pembunuh. Tidak bisa jadi sembilan orang saja diberi kompensasi," paparnya.

Anhar juga mengungkapkan kegeramannya atas perlakuan tidak adil yang rakyat Indonesia rasakan sebagai korban perang jika dibandingkan negara lain.

"Di luar negeri, seorang Amerika yang menembak mati seorang Vietnam, ribut seluruh dunia. Di sini diam aja. Perdana Menteri Belanda juga pernah bilang Den Haag adalah ibukota keadilan dunia, apa adilnya mereka terhadap Indonesia? Tidak ada. Dia ngomong begitu dengan mulut berdarah-darah rakyat Indonesia" sambungnya berapi-api.

Menurutnya, Belanda pada waktu itu tidak rela kehilangan lumbung ekonominya yaitu Indonesia. Karena itulah mereka berusaha untuk mendapatkan Indonesia kembali, meskipun melalui pembantaian.

"Pahlawan dalam tragedi ini adalah rakyat, Belanda itu tidak rela kehilangan Indonesia karena berarti lumbung ekonominya hilang. Belanda sangat berusaha untuk mengembalikan dengan segala cara, termasuk melalui pembantaian ini," jelas Anhar yang didampingi Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB), Batara Hutagalung.

Anhar juga mempertanyakan soal status hubungan diplomatik yang terjalin antara Indonesia dan Belanda.

"Sampai sekarang, landasan hubungan diplomatik Indonesia dengan Belanda apa? Mereka menolak 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan kita, jadi secara hukum mereka menolak kita. Kalau begitu apa hubungan diplomatik kita dengan mereka?" tutupnya. [ald]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

Sekjen PBB Kecewa AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional

Jumat, 09 Januari 2026 | 16:15

Gus Yaqut Tersangka Kuota Haji, PKB: Walau Lambat, Negara Akhirnya Hadir

Jumat, 09 Januari 2026 | 16:15

Gus Yahya Tak Mau Ikut Campur Kasus Yaqut

Jumat, 09 Januari 2026 | 16:03

TCL Pamer Inovasi Teknologi Visual di CES 2026

Jumat, 09 Januari 2026 | 15:56

Orang Dekat Benarkan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Ngadep Jokowi di Solo

Jumat, 09 Januari 2026 | 15:47

KPK Sudah Kirim Pemberitahuan Penetapan Tersangka ke Yaqut Cholil dan Gus Alex

Jumat, 09 Januari 2026 | 15:24

Komisi VIII DPR: Pelunasan BPIH 2026 Sudah 100 Persen, Tak Ada yang Tertunda

Jumat, 09 Januari 2026 | 14:56

37 WNI di Venezuela Dipastikan Aman, Kemlu Siapkan Rencana Kontigensi

Jumat, 09 Januari 2026 | 14:45

Pilkada Lewat DPRD Bisa Merembet Presiden Dipilih DPR RI

Jumat, 09 Januari 2026 | 14:40

PP Pemuda Muhammadiyah Tak Terlibat Laporkan Pandji Pragiwaksono

Jumat, 09 Januari 2026 | 14:26

Selengkapnya