Asian Youth Games-Nanjing 2013
Indonesia akhirnya meraih satu emas dua perak dan dua perunggu dalam ajang Asian Youth Games di Nanjing 16-24 Agustus. Hasil ini melewati target awal yang dicanangkan oleh Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sebelum multievent internasional ini berlangsung.
Ketua Umum KOI Rita Subowo saat dihubungi di Jakarta Minggu malam (25/8) mengatakan, pada awalnya Indonesia hanya mentargetkan satu perak dan 11 perunggu di AYG yang tahun ini memasuki edisi kedua. Ternyata pada AYG II Indonesia mampu meraih satu emas, dua perak dan dua perunggu.
Jumlah ini juga melampaui perolehan di AYG 2009 Singapura. Saat itu Indonesia hanya meraih satu perunggu dari cabang olahraga bola voli pantai dan berada di urutan 21.
"Hasil ini membanggakan dan di luar dugaan kita. Namun jangan membuat kita terlena karena bangsa-bangsa lain khususnya di Asia Tenggara juga mengalami kemajuan pesat," kata Rita.
Satu emas Indonesia diraih Ricky Anggawijaya dari nomor renang gaya punggung 100 meter putra. Ricky juga menyumbang satu perak dari gaya punggung 200 meter putra. Atlet renang yang juga menyumbang medali yaitu Lorenza Monalisa Arieswaty dengan perunggu di nomor 200 meter gaya kupu-kupu putri. Cabang atletik menyumbang satu perak dan satu perunggu atas nama Aprilia Katrina di nomor lari 1500 meter putri serta Ken Ayuthaya Purnama dari 100 meter lari gawang putri.
Sayangnya cabang lain yang menjadi target malah gagal meraih satu medalipun seperti bulutangkis, angkat besi dan taekwondo. Padahal jika mereka sukses tentu akan menambah pundi-pundi medali dan menaikkan peringkat Indonesia lebih tinggi.
Secara keseluruhan Indonesia berada di peringkat 15 Asia, dan keenam ASEAN di bawah Thailand, Singapura, Vietnam, Malaysia dan Filipina. Tuan rumah Cina menjadi juara umum dengan 45 emas 23 perak dan 23 perunggu.
Chieff de Mission Indonesia Ade Lukman mengatakan, Indonesia tidak boleh melalaikan pembinaan olahraga khususnya untuk kalangan remaja. Pasalnya, Thailand, Singapura dan Malaysia saja sudah melakukan persiapan sejak tiga tahun terakhir.
"Peta persaingan di Asia sudah sangat berat, khususnya di ASEAN. Negara tetangga sudah sejak awal mempersiapkan diri dengan sentralisasi pada satu pelatnas. Berbeda dengan kita, biasanya daerah enggan melepas atlet mudanya untuk sentralisasi di Jakarta," kata Ade.
[rus]