Pebalap veteran Formula 1, Mark Webber menilai bahwa, kualitas Formula One (F1) mengalami penurunan yang disebabkan banyak tim kini lebih berorientasi kepada uang, bukan prestasi, saat merekrut pebalap-pebalap muda.
Itu sebabnya, kata dia, kualitas pembalap yang ada di lintasan saat ini sangat rendah ketimbang 13 tahun lalu, atau saat pebalap asal Australia melakukan debut perdananya bersama tim Minardi.
“Saat saya membalap bersama Minardi dulu, ada (Eddie) Irvine, (Mika) Salo, mereka ini bergantian naik podium. Posisi start dipenuhi pebalap-pebalap yang pernah memenangkan F3000, memenangkan banyak balapan mengesankan,†kata Webber seperti dilansir Autosport, belum lama ini.
Namun, Webber yang akan mundur dari Red Bull pada akhir musim, nampak kecewa dengan kualitas beberapa pembalap yang ada saat ini. Tingginya biaya yang dibutuhkan tim-tim peserta Formula 1 membuat tim-tim tersebut mengutamakan pebalap muda yang punya sponsor dan berani membayar untuk memperkuat tim tertentu. Akibatnya, pebalap potensial yang minim finansial tersingkirkan.
“Pebalap sekarang hanya memenuhi lintasan di F1 saja. Karena sebenarnya, diluar sana ada banyak pebalap bertalenta, tetapi mereka tidak terjaring. Itu menyedihkan. (Pebalap GP2, Robin) Frijns contohnya, adalah talenta muda yang fenomenal tetapi tak punya uang,†pebalap yang akan mengakhiri karirnya di F1 akhir musim ini tersebut menutup.
Webber mengawali karirnya di Formula 1 dari F3000, yang sudah berhenti sejak 2004, digantikan GP2. Pebalap asal Australia itu menjadi pebalap penguji (test driver) bersama Arrows dan sejumlah tim lain sembari berkarir di F3000 sejak 2000, sebelum membalap bersama Minardi di 2002.
Saat mulai masuk F3000 dan F1 pun, Webber juga butuh sokongan finansial. Beruntung, pemilik tim Eddie Jordan memperkenalkannya kepada Paul Stoddart, pengusaha asal Australia, yang menanggung biaya sebesar 1 juta Dolar AS untuk berkiprah di F3000 dan kesempatan menjadi test driver di Arrow.
Pada akhir 2001, dia kembali menjadi test driver, kali ini untuk Benetton. Penampilannya selama tiga hari di Estoril, Portugal, cukup mengesankan. Ia berhasil mengalahkan catatan waktu Ralf Schumacher dan Giancarlo Fisichella, pebalap reguler di F1. [Harian Rakyat Merdeka]