Berita

Restorasi Demokrasi ala Militer Omong Kosong

KAMIS, 15 AGUSTUS 2013 | 07:38 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Dunia internasional patut mengecam kekerasan yang dilakukan pihak militer Mesir terhadap kelompok pendukung Muhammad Mursi.

Sejauh ini menurut informasi dari pihak pemerintah sekitar 278 orang tewas dalam kejadian itu. Sementara menurut informasi yang berkembang di media sosial jumlah tewas mencapai 2.000 orang. Terlepas dari berapa jumlah orang yang tewas dalam kekerasan yang dilakukan militer terhadap kantung-kantung kelompok pro-Morsi di Mesir dan kota-kota lain, peristiwa ini memperlihatkan bahwa restorasi demokrasi, istilah yang digunakan Menlu AS John Kerry untuk kudeta yang dilakukan militer di Mesir, adalah omong kosong dan berujung pada bencana.

"Sejak awal saya melihat kudeta yang dilakukan militer Mesir ini sebagai tindakan yang mengaborsi demokrasi, bukan upaya merestorasi demokrasi," kata dosen hubungan internasional FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Teguh Santosa, dalam perbincangan beberapa saat lalu (Kamis, 15/8).


Alasan yang digunakan kelompok militer pimpinan Jenderal El-Sisi bahwa Morsi yang terpilih sebagai presiden dalam pemilihan umum tahun lalu mengancam demokrasi karena menolak berbagi kekuasaan dengan kekuatan politik yang kalah dalam kompetisi tidak dapat dibenarkan. Demokrasi adalah sebuah proses yang panjang dan membutuhkan kesabaran serta keulatan.

"Semua elemen masyarakat Mesir sedang belajar mempraktikkan demokrasi setelah sekian lama berada di bawah rezim Husni Mubarak. Masing-masing kelompok memiliki definisi dan pengertian sendiri tentang demokrasi. Dalam praktik demokrasi, definisi-definisi itulah yang didialogkan, dan dialog memang membutuhkan waktu," ujar pengajar resolusi konflik ini.


 "Jelas militer Mesir memiliki definisi lain soal demokrasi, dan itu adalah kekerasan senjata. Mereka percaya bahwa demokrasi hanya dapat ditegakkan dengan popor dan peluru. Dunia harus mengecam pendekatan barbar ini," kata Teguh yang juga Ketua bidang Luar Negeri PP Pemuda Muhammadiyah.



 Di sisi lain, masih kata Teguh, kudeta dan kekerasan militer Mesir justru merusak demokrasi dan membuat kelompok-kelompok sipil yang selama ini dianggap "fundamentalis dan anti-demokrasi" seperti Ikhwanul Muslimin semakin punya alasan yang kuat untuk menolak demokrasi. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya