Berita

Politik

Wiranto: Politik Dinasti Merusak Demokrasi!

KAMIS, 01 AGUSTUS 2013 | 00:01 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Politik dinasti yang berkembang di Indonesia saat ini akan membuat demokrasi menjadi tidak sehat. Politik dinasti akan menjadi akar dari berkembangnya korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Begitu ditegaskan Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, di sela acara buka puasa bersama di Jakarta, Rabu (31/7). Menurut dia, bangsa Indonesia harus berani bersikap tegas menolak praktik KKN. Apalagi, MPR RI sudah membuat Ketetapan tentang Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas KKN.

"Praktik korupsi yang telah menjadi musuh bersama bangsa Indonesia. Jangan sampai tumbuh subur dengan adanya nepotisme politik dan politik dinasti," tehas dia.


Wiranto menekankan untuk menciptakan politik yang bersih harus dimulai dari rumah yang bersih. Rumah yang dimaksud adalah partai politik sebagai lembaga pengusung calon pemimpin nasional. Partai politik yang bersih indikatornya adalah tidak adanya praktik nepotisme politik atau politik dinasti.

Wiranto menegaskan dirinya konsisten menjaga kebersihan partainya dari praktik nepotisme. Dia menuturkan sebelumnya ada dua adiknya yang menjadi pengurus di Partai Hanura, tapi partai tersebut berkembang secara sehat dan tidak ada neporisme, maka dia meminta kedua adiknya untuk mundur dari struktur kepengurusan. Ia menyayangkan pada era reformasi saat ini dunia politik nasional banyak tumbuh politik dinasti.

"Faktanya, politik dinasti itu terjadi pada kepengurusan partai. Ketika orang tuanya menjadi ketua umum, anaknya menjadi salah satu ketua atau sekretaris. Mereka juga bisa sama-sama menjadi anggota legislatif," kata Wiranto seperti tertulis dalam keterangan pers yang diterima redaksi.

Wiranto mengingatkan ketika demokrasi di Indonesia sedang berkembang menuju arah yang benar, hendaknya tidak dirusak dengan politik dinasti dan nepotisme politik.

"Politik dinasti jika tidak dihentikan akan membahayakan pertumbuhan demokrasi di Indonesia," katannya.[dem]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Demokrat: Tidak Benar SBY Terlibat Isu Ijazah Palsu Jokowi

Rabu, 31 Desember 2025 | 22:08

Hidayat Humaid Daftar Caketum KONI DKI Setelah Kantongi 85 Persen Dukungan

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:57

Redesain Otonomi Daerah Perlu Dilakukan untuk Indonesia Maju

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:55

Zelensky Berharap Rencana Perdamaian Bisa Rampung Bulan Depan

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:46

Demokrasi di Titik Nadir, Logika "Grosir" Pilkada

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:37

Demokrat: Mari Fokus Bantu Korban Bencana, Setop Pengalihan Isu!

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:35

Setoran Pajak Jeblok, Purbaya Singgung Perlambatan Ekonomi Era Sri Mulyani

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:14

Pencabutan Subsidi Mobil Listrik Dinilai Rugikan Konsumen

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:02

DPRD Pastikan Pemerintahan Kota Bogor Berjalan

Rabu, 31 Desember 2025 | 20:53

Refleksi Tahun 2025, DPR: Kita Harus Jaga Lingkungan!

Rabu, 31 Desember 2025 | 20:50

Selengkapnya