Berita

ilustrasi, industri pesawat terbang indonesia

Bisnis

Dana Seret, Industri Pesawat Terbang Nasional Mangkrak

SENIN, 29 JULI 2013 | 09:01 WIB

Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Soerjono mengungkapkan, seretnya dana menjadi kendala perkembangan industri pesawat terbang dalam negeri.

Maklum saat ini pemerintah tidak memiliki dana yang besar untuk mengembangkan industri pesawat terbang nasional.

“Bank pun tidak mau memberikan pinjaman untuk industri ini. Padahal, di Amerika saja bank-nya berani untuk memberikan pinjaman bagi industri ini,” ujar Soerjono kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Untuk teknologi, kata dia, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sudah mampu membuat pesawat terbang. Bahkan, saat ini BUMN tersebut mensuplai bagian dari Airbus A380. Menurutnya, dengan jumlah market yang besar, seharusnya bisa menjadikan industri ini bisa meningkat.

Namun, sayangnya, keberpihakan terhadap industri ini masih minim. Dia bilang, maskapai dalam negeri saja tidak mau menggunakan pesawat buatan PT DI dan lebih senang beli pesawat impor.

“Padahal karakteristrik Indonesia cocoknya dengan pesawat CN235 dan N219. Itu untuk meningkatkan connectivity. Pasalnya, pulau-pulau kita cocoknya menggunakan pesawat-pesawat kecil sebagai penghubung,” jelasnya.

Lebih jauh, Soerjono juga mendorong perkembangan industri perawatan dan komponen pesawat dalam negeri. Dikatakan, jika dibanding Singapura dan Malaysia, jumlah pesawat yang dimiliki Indonesia lebih banyak. Namun, sayangnya, industri perawatannya malah banyak di Singapura.

“Industri perawatan selama ini malah ditangkap oleh Singapura. Industri kita belum bisa memanfaatkan itu,” keluhnya.

Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun mengatakan, pertumbuhan jumlah penumpang pesawat rute domestik dan internasional setiap tahun terus mengalami pertumbuhan. Bahkan, pada 2012 jumlahnya naik 16 persen dibanding tahun sebelumnya.

Menurutnya, saat ini tercatat ada 15 maskapai penerbangan dengan jumlah pesawat mencapai 800 unit. Namun, jumlah perusahaan MRO (Maintenance, Repair & Overhoul) hanya 30 perusahaan. Padahal, potensi MRO domestic 2015 diperkirakan tembus 2 miliar dolar AS.

“Sayangnya industri komponen pesawat terbang masih belum berkembang,” katanya
Sebelumnya, Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional Kemenperin Agus Tjahjana mengatakan, perusahaan aerospace asal Amerika Serikat, UTC Aerospace System, tertarik menanamkan investasinya di Indonesia. Perusahaan sebelumnya telah memiliki usaha patungan (joint venture) dengan PT Pindad sejak tahun 1997.

“Planning mereka mau investasi kembali sebesar 40 juta dolar AS lebih, dengan itu bisa menyerap 500 tenaga kerja,” ujar Agus.

Rencana investasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas tenaga ahli pesawat terbang di Indonesia seperti penyediaan kesempatan pelatihan kerja bagi tenaga ahli pesawat terbang dalam negeri.
 
Selain itu dapat mendorong tumbuhnya industri komponen pesawat terbang di Indonesia dengan cara menjalin kerja sama dengan industri komponen pesawat terbang nasional. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya