Tim Formula1 Red Bulls dan Mercedes mendesak Federasi Otomotif Internasional (FIA) segera melakukan pembenahan prosedur keselamatan di area pit lane selama balapan F1 berlangsung musim ini.
Hal itu dimaksudkan agar nasib naas yang menimpa kameramen FOM Paul Allen tidak kembali terulang di balapan berikutnya.
Seperti diketahui, seorang juru kamera Paul Allen mengalami patah tulang leher, patah tulak rusuk dan memar di bagian tubuhnya akibat dihantam ban milik Mark Webber di Grand Prix Jerman, Minggu (7/7) WIB.
Insiden itu terjadi ketika pebalap Red Bull, Mark Webber masuk ke pit untuk mengganti ban. Teknisi pun berpacu dengan waktu untuk menangani mobil Webber.
Akan tetapi, setelah selesai dan Webber kembali melaju, ban belakang bagian kanan mobil Webber lepas, dan menggelinding deras mengenai Paul Allen. Akibat inisiden ini Allen dikabarkan menderita patah tulang selangka (collarbone) dan bagian rusuk.
Kepala tim principal Red Bull, Christian Horner mengatakan, kejadian ini merupakan peringatan, bahwa tak seorang pun bisa berada di sekitar pit lane tanpa persetujuan pihak terkait.
“Sangat berbahaya, sebab mobil yang berada di sini (pit lane) cukup cepat, dan akan banyak peristiwa yang mengejutkan di sekitar mereka, Masalah ini perlu dilihat secara serius,†ujar Horner dilansir
ESPNf1, kemarin.
Pernyataan senada dilontarkan tim principal Mercedes, Ross Brawn. Ia mengaku saat melihat balapan 24 jam di Le Mans lalu, setiap orang yang berada di sekitar pit lane harus menggunakan helm. Sehingga ia meminta jika langkah-langkah keamanan ke depannya harus dipertimbangkan dalam balapan jet darat berikutnya.
Setelah pihak otoritas F1 melakukan investigasi melalui rekaman video, Red Bull pun mendapat sanksi berupa denda sebesar 30 ribu pound atau sebesar Rp 383 juta, karena dianggap keluar pit dengan tidak aman, sebab melepas dua mobil sebelum semua ban terpasang dengan pasti. [Harian Rakyat Merdeka]