Berita

rhoma irama/ist

Politik

Capreskan Rhoma Irama, PKB Benar-benar Alami Involusi

SENIN, 01 JULI 2013 | 22:14 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mantap mengusung Rhoma Irama sebagai calon presiden pada pemilu 2014 mendatang. Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar mengkampanyekan sang raja dangdut sebagai capres tunggal dalam peringatan Harlah ke 15 PKB di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (1/7).

Pengamat politik Muhammad AS Hikam mengatakan ada banyak bahan analisa kenapa Muhaimin "keukeuh" dengan pencapresan Rhoma. Misalnya, apakah keputusan tersebut sudah melalui pemikiran dan kajian yang mendalam, misalnya pertimbangan popularitas dan elektabilitas Rhoma? Atau jangan-jangan ini hanya 'gimmick' politik elit PKB untuk menopang kampanye pemilihan legislatif PKB? Lalu, bukankah Rhoma bisa dijadikan mesin kampanye yang menarik di kantong-kantong Nahdlatul Ulama khusunya Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat?

"Namun secara substantif, dengan menyapreskan RhI (Rhoma Irama), sebenarnya PKB-Imin telah mendeklarasikan dirinya sebagai parpol yang tidak memiliki kader nasional yang pantas menjadi capres. Termasuk pada jajaran elitnya di DPP,"  tulis Hikam dalam akun jejaring sosial miliknya, mashikam.com, Senin (1/7).


Pilihan mencalonkan Rhoma, kata doktor politik lulusan Hawai University itu, PKB dan Muhaimin Iskandar berarti telah dengan terang-terangan menutup pintu bagi tokoh-tokoh yang ada di NU, yang bisa jadi memiliki kualitas lebih sebagai negarawan ketimbang Rhoma.  

Pilihan itu juga sebuah bukti telak kepada publik bahwa semenjak almarhum Gus Dur didepak oleh Muhaimin Iskandar dan kawan-kawan dari kursi ketua umum Dewan Syuro, telah terjadi proses involusi di dalam PKB yang ujungnya adalah makin rendahnya relevansi partai dalam kiprah perpolitikan nasional.

"Inilah sebuah penyia-nyiaan atas potensi yang dimiliki oleh NU dan pendukungnya di negeri ini," demikian Hikam yang dikenal sebagai pengikut Gus Dur alias Gus Durian. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya