Figur-figur yang sudah berani mendeklarasikan diri bahkan telah berkampanye sebagai calon presiden diacungi jempol. Karena, jauh-jauh sehari sebelum pemilihan presiden, publik sudah tahu dan bisa mengenal kandidat yang akan berkontestasi.
"Itu merupakan proses pendidikan politik yang sangat positif. Saya apresiasi daripada nanti orang beli kucing dari karung," jelas Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Rija Ul Haq kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 13/6).
Menurutnya, wacana konvensi yang akan digelar sejumlah partai, seperti Partai Demokrat, juga memungkinkan rakyat tahu siapa yang bakal bertarung di 2014.
"Itu akan membuka rekam jejak setiap calon yang akan maju. Disitulah proses proses pendidikan politik bagi masyarakat," ungkap tokoh muda Muhammadiyah ini.
Tapi tentu, untuk mendapatkan informasi soal rekam jejak yang utuh, masyarakat harus mencari dari sumber-sumber lain siapa sebenarnya sosok capres-cawapres tersebut. Artinya, tidak hanya mengandalkan yang disampaikan calon atau tim sukses.
Selain itu, sambung Fajar, keuntungan konvensi lainnya adalah akan memungkinkan munculnya calon-calon alternatif di 2014 nanti. Asal konvensi itu dilakukan secara
fair, bukan rekayasa.
"Tentu ada skeptisisme publik bahwa itu hanya untuk mengangkat citra, untuk meningkat elektabilitas partai yang bersangkutan, atau mengerek popularitas calon yang mereka usung. Tapi paling tidak sudah ada upaya positif dari masing-masing partai itu untuk membuka diri," ungkapnya.
Kalaupun nanti konvensi itu hanya akal-akalan, nanti bisa dinilai rakyat. Karena rakyat juga tidak bodoh. "Makanya, sekarang ini yang perlu adalah memperjelas mekanisme konvensi. Apakah transparan atau ada hak
veto dari masing-masing partai untuk menentukan pada akhirnya," demikian Fajar.
[zul]