Berita

jokowi

Jangan Sampai Presiden Indonesia Mendatang Seperti Figur Jokowi

RABU, 12 JUNI 2013 | 14:53 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Wacana bahwa Joko Widodo layak menjadi presiden RI mendatang sengaja dibesar-besarkan. Tujuannya untuk menghipnotis masyarakat dan mengalihkan perhatian atas tidak adanya janji-janji Gubernur DKI Jakarta itu yang terealisasi.

"Terlalu dini tentu dan jika itu terjadi, tampaknya kini masyarakat Indonesia akan diajari kembali oleh sekelompok orang, yakni diajari cara memilih pemimpin gagal," ujar pengamat sosial-politik Mustofa Nahrawardaya (Rabu, 12/6).

Menurutnya, bagi warga Solo mungkin sebuah kebanggaan bekas walikotanya bisa naik jabatan menjadi Gubernur di Ibukota. Tetapi, bagi sebagian warga DKI, ini menjadi mimpi buruk.


Apalagi dilengkapi dengan perilaku Wakilnya, Basuki T. Purnama yang terkesan sarat dengan kesombongan dan kepongahan kepada rakyat miskin.  Bagaimana mungkin Indonesia akan meniru cara warga DKI yang memilih pemimpin hanya karena sukses memenej isu dan memusuhi warga miskin seperti itu?

Karena itu, ia menegaskan, presiden mendatang sebaiknya bukan dihasilkan dari proses tipu-tipu program. Presiden mendatang jangan dihasilkan dari transaksi politik murahan. Demografi kemiskinan yang masih banyak di Indonesia, memang berpotensi mudah dihipnotis mata dan telinganya. Ditambah keterbatasan ilmu dan teknologi, masyarakat kita akan masih bisa dengan mudah ditipu matanya.

"Kamuflase-kamuflase mungkin akan sukses membohongi banyak orang. Dikiranya emas permata, ternyata itu imitasi belaka. Sebaiknya pilih calon presiden yang punya catatan prestasi, bukan calon presiden imitasi. Jika Jokowi ingin jadi Presiden, silahkan tahun 2014 Hijriyah," ketusnya.

"Selesaikan dulu membangun Jakarta, hingga akhir jabatan jika ingin memiliki catatan prestasi gemilang. Tanpa itu, tiada guna," demikian Mustofa.

Makanya, dia menilai, rencana pelaksanaan Kongres Relawan Jokowi se-Dunia di Bandung yang salah satu tujuannya meminta politikus PDIP itu untuk nyapres lebay dan tidak mendidik.  [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Rabu, 30 September 2026 | 10:27

Komisi IX DPR Dorong Pekerja Platform Digital Masuk RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Rabu, 30 September 2026 | 10:18

Rupiah Menguat, Intip Proyeksinya Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 | 10:07

Prabowo Dorong Rehabilitasi Pengguna Narkoba Berbasis Pendidikan dan Teknologi

Rabu, 30 September 2026 | 10:04

Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence

Rabu, 30 September 2026 | 09:50

Dugaan Suap Bela Parahiyangan Investindo Mirip Perkara Summarecon

Rabu, 30 September 2026 | 09:39

Jokowi Sengaja Tunjukkan KTA PSI di Kandang Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 09:36

Jokowi Menyadari Dirinya dan Gibran Sedang Diserang

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Indonesia Usulkan Mekanisme Koordinasi Lintas Negara Berantas Penipuan Daring

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Selengkapnya