Berita

dradjad h wibowo/ist

Dradjad H Wibowo: Masuk Akal Bila Bendera Merah Putih Diberi Sedikit Kekhasan

JUMAT, 31 MEI 2013 | 15:23 WIB | LAPORAN:

. Usul Ketua The President Center, Eddy Herwani Didied Mahaswara, untuk memodifikasi bendera Merah Putih mendapat sambutan hangat dari Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad H Wibowo.

Sebagaimana kata Didied, Dradjad juga memastikan bahwa bendera Merah Putih Indonesia memang sama persis dengan bendera Monaco. Dan perlu dicatat, Monaco jauh lebih dulu memakai bendera merah putih dibandingkan dengan Indonesia.

Pada bulan November lalu, kata Drajdad kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 31/5), ia kebetulan ada meeting di Perancis selatan. Dradjad pun berada di Monaco beberap hari menjelang Hari Nasional mereka, dan bendera merah putihnya berkibar dimana-mana.


"Sambil becanda ke teman Perancis saya, saya katakan Indonesia "menjajah" Monaco. Memang agak heran juga Monaco tidak "menggugat" kita karena memakai bendera yang sama persis dengan mereka," kata Dradjad.

"Jadi kalau bendera Merah Putih diberi sedikit kekhasan supaya tidak sama dengan bendera Monaco, saya rasa masuk akal. Apakah Garuda atau simbol lain, silakan dibahas," sambung Dradjad.

Sebelumnya, Ketua Forum The President Center mengusulkan agar ada lambang burung Garuda Pancasila di tengah bendera negara Merah Putih. Modifikasi ini perlu dilakukan supaya Pancasila lebih diingat dan memperkuat identitas bangsa sebagai lambang negara.

Dia menjelaskan, lambang Garuda Pancasila yang disatukan dengan bendera Merah Putih punya banyak manfaat. Selain untuk memasukkannya ke dalam ingatan jangka panjang rakyat sebagai identitas bangsa, juga untuk membedakan bendera Indonesia dengan bendera negara bagian Hessen di Jerman, dan bendera negara Monaco yang memiliki warna sama.

Menurut Didied, ada lebih 20 negara yang permukaan benderanya juga diletakkan lambang negara. Meski begitu, Didied tidak menampik jika usulan modifikasi bendera negara itu kemungkinan akan menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Yang pasti, usul itu tidak bertujuan buruk. Usul ini untuk mengingatkan rakyat akan nilai-nilai Pancasila.

"Kalau memang tidak diterima ya tidak apa-apa, namanya juga kita usul. Pasti banyak yang menentang, tapi tidak ada jeleknya kita mencoba. Tapi, khusus bendera Sang Saka Merah Putih yang ada di Istana tetap tidak berubah karena itu ada unsur historisnya," tegas Didied. [ysa]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

Kadisdik DKI Senang Lihat Kemping Pramuka di SDN 11 Kebon Jeruk

Sabtu, 10 Januari 2026 | 02:03

Roy Suryo Cs Pastikan Menolak Ikuti Jejak Eggi dan Damai

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:47

Polri Tetap di Bawah Presiden Sesuai Amanat Reformasi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:14

Kesadaran Keselamatan Pengguna Jalan Tol Rendah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:04

Eggi dan Damai Temui Jokowi, Kuasa Hukum Roy Suryo Cs: Ada Pejuang Ada Pecundang!

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:34

Debat Gibran-Pandji, Siapa Pemenangnya?

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:19

Prabowo Didorong Turun Tangan terkait Kasus Ketua Koperasi Handep

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:04

Eggi dan Damai Mungkin Takut Dipenjara

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:46

Relasi Buku Sejarah dan Medium Refleksi Kebangsaan

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:42

Kadispora Bungkam soal Lahan Negara di Kramat Jati Disulap Jadi Perumahan

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:07

Selengkapnya