Berita

ilustrasi, Pasar Tradisional

Pasar Tradisional Pasca Disidak Jokowi Masih Becek & Semrawut

Mulai Agustus, Pemprov DKI Geber Revitalisasi Pasar
JUMAT, 10 MEI 2013 | 09:58 WIB

Upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merevitalisasi pasar tradisional di ibukota, disambut baik para pedagang. Terlebih melihat banyak pasar tradisional yang kondisinya sudak tidak layak. Diharapkan, setelah pasar direnovasi, mereka masih bisa berdagang di tempat semula.

Seperti Pasar Lokasi Binaan (Lokbin) Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, kesan yang didapat kondisinya kumuh, becek dan semrawut.

Kondisi itu membuat konsumen enggan datang, terlebih saat musim hujan.


Pasar tradisional juga belum memasukkan zonasi antara pedagang ikan, sayur mayur serta pedagang lainnya. Sebagian pedagang hanya menempati lapak yang terbilang kecil. Rencananya, renovasi pasar akan dilakukan mulai Agustus 2013 dengan anggaran Rp 9 miliar. Nantinya, Pasar Lokbin Meruya Utara akan memiliki lebih dari 200 kios.

Salah seorang pedagang di Pasar Lokbin Meruya Utara mengatakan, kondisi pasar saat ini memang sudah tidak layak. Karena itu, ia bersama pedagang lainnya merasa senang jika Pemprov DKI Jakarta berencana merevitalisasi pasar tradisional agar bisa bersaing dengan pasar modern.

“Saya senang kalau pasar akan direnovasi, sehingga nanti menjadi lebih baik dari saat ini. Kami minta selama direnovasi, ada pasar sementara agar pedagang tetap bisa berjualan,” kata Simamora, pedagang sayur yang sudah empat tahun berjualan di Pasar Lokbin Meruya Utara.

Kondisi serupa terdapat di Pasar Lokbin Kramat Jati, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Pasar tradisional yang beberapa hari lalu sempat dikunjungi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) ini kondisinya kumuh, becek, bau serta semrawut. Bun-tutunya, banyak pedagang memilih berjualan di luar lokasi pasar dan mengambil sebagian jalan sehingga bikin macet.

Dengan berjualan di luar lokasi pasar, pedagang justru lebih mudah menjual dagangannya karena konsumen enggan masuk ke pasar. Sayangnya, berdagang di pinggir jalan mengganggu pengguna jalan.

Seperti yang terlihat di Jalan Raya Bogor depan pasar yang biasanya dilalui dua mobil, namun jika malam hingga pagi hari hanya satu jalur yagn bisa dilalui mobil. Satu jalur di dekat trotoar dikuasai para pedagang. Belum lagi ada busway, sehingga bikin macet.

Kondisi seperti itu sudah sering dikeluhkan pengguna jalan, namun belum ada tindak lanjut dari Pemprov DKI Jakarta. Nando, seorang pengguna jalan yang hampir setiap hari melintas mengatakan, saat berangkat kerja di pagi hari serta pulang kerja di malam hari selalu mengalami kemacetan. Menurutnya, butuh waktu lama untuk bisa melintas di depan lokasi pasar itu. “Sudah makanan sehari-hari kalau lewat Kramat Jati memang begitu. Yang bisa menikmati kemacetan hanya orang berdagang,” keluhnya.

Pemprov DKI Jakarta berencana memulai revitalisasi Pasar Lokbin Kramat Jati Juni mendatang. Revitalisasi diproyeksikan selesai bulan November tahun ini.

Sementara pasar direnovasi, para pedagang akan dipindahkan ke lokasi yang berada tidak jauh dari pasar.
 
Dana untuk revitalisasi itu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Pemprov DKI Jakarta memastikan tidak akan memungut biaya dari pedagang untuk memperbaiki sekitar 150 kios di Pasar Lokbin Kramat Jati.

Sewanya Mahal, Kiosnya Pun Kosong

Kondisi pasar tradisional pasca renovasi ternyata masih dikeluhkan sejumlah pedagang. Penghuni pasar sebelumnya mengeluhkan harga kios yang tidak terjangkau setelah direnovasi. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dianggap tidak pro pedagang pasar tradisional yang sebagian besar usaha kecil dan menengah (UKM).

Pembaca Rakyat Merdeka melalui SMS ada yang menyampaikan keluhannya, terkait kondisi pasar tradisional di ibukota. Menurutnya, program penataan pedagang kaki lima (PKL) dan pedagang tradisional Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) belum optimal.

Ia mengungkapkan, dari 80-an lebih pasar tradisional di bawah PD Pasar Jaya, mayoritas kosong pasca renovasi karena harga lapak kios mahal, paling murah Rp 20-60 jutaan per meter persegi.

“Praktis tidak  terjangkau pedagang kecil. Sudah saatnya reformasi jawatan pasar milik Pemprov DKI Jakarta agar pro pedagang kecil dan menampung PKL,” kata isi SMS itu.

Ada juga yang mengatasnamakan asosiasi pedagang UKM di pasar tradisional yang menagih janji Jokowi merevisi harga kios. Menurutnya, revisi harga kios rata-rata berbau mark up dan KKN.

“Masak paling murah Rp 300 sampai Rp 1 miliar lebih, sama dengan harga kios di mall swasta. Saatnya manajemen PD Pasar Jaya diaudit dan direformasi demi wong cilik,” tegasnya.

Pedagang asli UKM di pasar tradisional Pasar Jaya mengaku sudah lelah minta Jokowi wujudkan janjinya revisi harga kios pasca renovasi yang selangit. Hal itu membuat bangkrut usaha mereka, apalagi plus bunga yang mencapai 60 persen.

“Kepada siapa lagi kami harus mengadu? Tolong audit PD Pasar Jaya, penuh KKN, mark up harga kios,” tegasnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya