Berita

basuki t purnama/ist

Nusantara

Andi Arief Mencurigai Kebiasaan Ahok Marah-marah

KAMIS, 25 APRIL 2013 | 18:57 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sudah lama kebiasaan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama marah-marah jadi pembicaraan banyak kalangan. Kebiasaannya marah-marah ini sudah ada sejak ia yang biasa disapa Ahok belum menjabat sebagai Wagub Jakarta, dan dinilai semakin parah setelah ia memenangkan pemilihan kepala daerah tahun lalu.

"Menjadi pemimpin itu bukan berarti memiliki tiket untuk mengatasi persoalan masyarakat dengan gampang. Perlu cara yang tepat dan tidak menggunakan ancaman, stigmatisasi, dan lain-lain," ujar Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Andi Arief mengomentari kemarahan terakhir Ahok pada masyarakat yang menolak penggusuran.

Ahok mengatakan bahwa masyarakat di bantaran Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utaram, yang menolak bertingkah seperti komunis. Pernyataan Ahok ini disesalkan banyak kalangan.


"Peristiwa Ahok menyebut rakyatnya dengan stigma komunis menggambarkan ia kehilangan akal menjadi pemimpin. Ini hal serius. Saya mencurigai kebiasaannya marah selama ini plus menyebut stigma komunis. Jangan-jangan Ahok ada sakit kejiwaan," ujar Andi Arief lagi.

Dia mengingatkan bahwa masyarakat memang memiliki kebiasaan mempertahankan tanahnya. Baik tanahnya sendiri maupun kadang-kadang tanah yang bukan miliknya namun sudah menjadi tempat tinggalnya sangat lama sekali.

"Perlu pendekatan, bukan justru melakukan serangan kepagian menyebut mereka yg ingin mempertahankan tanah dengan ganti rugi disebut komunis. Entah apa yang dipikirkan Ahok saat keluar kata tak pantas itu," masih kata Andi Arief.

Katanya lagi, seharusnya Ahok ingat istilah "tuntutlah ilmu sampai negeri China". Pembebasan tanah untuk infrastruktur terbaik di dunia dilakukan pemerintah China yang mayoritas rakyatnya komunis.

"Saat ada rasisme yang dilakukan Farhat Abas di Twitter, dia marah. Kini, dalam bentuk yang lain dia gunakan senjata stigma komunis kepada rakyat yang membela apa yang mereka pahami sebagai kepentingan mereka," demikian Andi Arief. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya